Alarm Demokrasi dengan ‘Matinya Nalar Kritis’ di Ruang Akademik

c0002.00 06 26 39.still015

JAKARTA — Ruang akademik dan institusi pendidikan tinggi di Indonesia dinilai sedang menghadapi krisis eksistensial yang akut. Kampus, yang secara historis tegak lurus sebagai benteng kebenaran dan nalar kritis, dituding mulai lumpuh akibat penetrasi politik praktis dan pragmatisme kelompok elite.

Fenomena “matinya nalar kritis” di kalangan civitas akademika ini menjadi sorotan tajam dalam diskusi publik yang mengupas merosotnya indeks kualitas demokrasi nasional.

Pengamat politik senior, Ray Rangkuti, menyatakan bahwa pelemahan nalar kritis di ruang akademik saat ini terjadi secara struktural. Kampus tidak lagi menjadi ruang bebas untuk menguji kebijakan publik secara objektif, melainkan mulai terseret menjadi stempel legitimasi bagi narasi-narasi penguasa.

“Ketika kampus diam melihat penyimpangan hukum, atau bahkan sebagian elemennya justru membenarkan kebijakan yang mencederai keadilan publik, di situlah nalar kritis di ruang akademik telah mati,” tegas Ray dalam program wawancara #SPEAKUP.

Menurut analisis jurnalistik di lapangan, gejala ini terlihat dari dua sisi. Pertama, adanya represi halus (soft repression) dari birokrasi kampus terhadap diskusi atau gerakan mahasiswa yang berseberangan dengan pemerintah. Kedua, maraknya pragmatisme di kalangan oknum akademisi dan mahasiswa yang tergiur oleh insentif logistik, pendanaan, hingga janji posisi politik dari lingkaran kekuasaan.

Dampaknya, perdebatan substansial berbasis data dan etika digantikan oleh retorika panggung atau “podium” politik yang sekadar memoles citra pemerintah.

Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari para sosiolog dan aktivis pendidikan. Mereka memperingatkan bahwa jika ruang akademik kehilangan independensinya, masyarakat tidak lagi memiliki kompas moral yang tepercaya untuk mengontrol jalannya kekuasaan.

Sejumlah guru besar dan alumni universitas kini mendesak adanya gerakan pemulihan kembali khittah mimbar akademik. Universitas harus dikembalikan sebagai ruang merdeka yang steril dari segala bentuk intervensi politik uang dan kekuasaan demi menjaga nalar sehat bangsa.

1 komentar untuk “Alarm Demokrasi dengan ‘Matinya Nalar Kritis’ di Ruang Akademik”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top