Sembilan Syarat Iran yang Tak Akan Pernah Disetujui Amerika dan Israel

image (19)

Edy Mulyadi, Wartawan Senior

Di media sosial beredar daftar berisi 9 tuntutan yang disebut sebagai syarat gencatan senjata dari Iran. Daftar itu viral karena nadanya keras dan menantang.

Jika Diterjemahkan, isinya kira-kira sebagai berikut: 1.Menyerahkan Benjamin Netanyahu ke Mahkamah Pidana Internasional. 2. Israel harus mundur ke garis perbatasan sebelum 7 Oktober. 3. Membatalkan rencana tentang Gaza yang didorong oleh Donald Trump. 4. Mencabut seluruh sanksi terhadap Iran dan mengembalikan dana Iran yang dibekukan. 5. Mengakui hak Iran atas program nuklirnya. 6. Menghentikan intervensi di Lebanon, Suriah, dan Yaman. 7. Menarik seluruh pangkalan militer Amerika dari tanah Arab. 8. Trump harus meminta maaf secara terbuka kepada Ali Khamenei. 9. Memberi kompensasi kepada Iran atas semua sanksi yang pernah dijatuhkan.

Apakah daftar itu dokumen resmi pemerintah Iran? Belum tentu. Tidak ada konferensi pers. Juga tak ada dokumen diplomatik yang secara resmi memuat daftar tersebut.

Namun menariknya, substansi tuntutan itu sama sekali tidak terasa mengada-ada. Ambil contoh poin pertama: menyerahkan Netanyahu ke Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC). Dunia tahu bahwa pengadilan internasional memang sedang memproses tuduhan kejahatan perang terhadap pemimpin Israel itu. Artinya satu hal: narasi lama yang menggambarkan Israel selalu sebagai korban mulai runtuh.

Yang terjadi di Gaza bukan sekadar konflik bersenjata. Ini adalah genosida. Ribuan rumah dihancurkan. Rumah sakit dibom. Kamp pengungsi digempur. Bantuan makanan diblokade. Air dan listrik diputus. Seluruh wilayah Gaza diperlakukan seperti penjara raksasa yang kemudian dihancurkan secara sistematis oleh Israel. Dan semua itu berlangsung dengan satu sponsor utama: United States. Tanpa perlindungan militer, diplomatik, dan politik dari Washington, mustahil Israel dapat bertindak sebrutal itu tanpa konsekuensi internasional.

Namun situasi global kini mulai berubah. Di dalam negeri Amerika sendiri, gelombang kemarahan publik terhadap kebijakan luar negeri pemerintah semakin besar. Demonstrasi pro-Palestina terjadi di berbagai kota besar. Kampus-kampus bergolak. Mahasiswa, akademisi, hingga aktivis HAM mengecam keras dukungan tanpa syarat Washington terhadap Israel. Tekanan politik juga mulai muncul di Kongres Amerika.

Bahkan di kalangan sekutu Barat Amerika, suara kritis semakin terdengar. Pemerintah Spanyol, Irlandia, dan Norwegia mengambil langkah politik penting dengan mengakui negara Palestina secara resmi. Langkah ini jelas menunjukkan ketidakpuasan terhadap kebijakan Israel di Gaza.

Negara-negara lain seperti Perancis, Belgia, dan Kanada juga berkali-kali mengkritik keras operasi militer Israel yang dinilai tidak proporsional terhadap warga sipil. Bahkan di Inggris muncul tekanan politik yang semakin kuat agar pemerintah meninjau ulang atau membatasi penjualan senjata kepada Israel.

Semua perbedaan sikap ini menunjukkan satu kenyataan geopolitik yang tidak bisa diabaikan. Ketika sekutu sendiri mulai gelisah, itu tanda bahwa hegemoni lama sedang retak dari dalam.

Anak nakal yang pahlawan

Di tengah situasi seperti itu, posisi Iran menjadi semakin menarik. Selama puluhan tahun Iran selalu dilabeli Barat sebagai “negara nakal”. Negara radikal. Ancaman dunia. Tetapi bagi banyak rakyat di Timur Tengah, Iran justru dipandang sebagai kekuatan yang berani menantang dominasi Israel dan Amerika. Realitasnya sederhana. Selama tidak ada kekuatan yang menyeimbangkan Israel, rakyat Palestina akan terus menjadi korban penjajahan.

Sekali lagi, daftar tuntutan Iran yang viral tersebut memang belum jelas benar atau tidak sebagai dokumen resmi. Tapi satu hal yang pasti, itu mencerminkan sesuatu yang jauh lebih besar: kemarahan global terhadap genosida di Palestina. Dan kemarahan itu terus membesar. Di Timur Tengah, di Eropa. Bahkan di jantung Amerika sendiri.

Israel mungkin masih memiliki senjata paling canggih. Amerika bisa jadi masih memiliki militer paling kuat di dunia. Tetapi ada satu hal yang makin runtuh dari keduanya: legitimasi moral.

Ketika dunia mulai melihat siapa penjajah dan siapa korban, propaganda tidak lagi cukup untuk menutupi kenyataan. Genosida tidak bisa disembunyikan selamanya. Cepat atau lambat, sejarah akan menuliskan satu kalimat yang sangat sederhana: Palestina dijajah. Israel melakukan genosida. Amerika mendukung penuh Israel, tanpa syarat! Dunia akhirnya melihatnya.

Pertanyaannya apakah Israel dan Amerika bakal setuju sembilan syarat Iran untuk gencatan senjata? Jawabnya: (hampir pasti) tidak. Sebab, menyetujui syarat-syarat itu, sama saja memaksa mereka mengaku dan berkata: ya, kami penjahatnya. []

Jakarta, 11 Maret 2026

1 komentar untuk “Sembilan Syarat Iran yang Tak Akan Pernah Disetujui Amerika dan Israel”

Tinggalkan Balasan ke someone Batalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top