Di tengah narasi optimistis pemerintah mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah suara lantang muncul dari Bulaksumur. Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM, hadir di kanal YouTube Abraham Samad SPEAKUP bukan hanya membawa kritik, tetapi juga membawa “luka” demokrasi yang ia alami sendiri: teror, ancaman penculikan, hingga rencana pembunuhan.
1. “Maling Berkedok Gizi”: Proyek di Atas Perut Rakyat
Tiyo tanpa ragu mengubah akronim MBG menjadi istilah yang lebih kelam. Ia menengarai program ini lebih condong sebagai proyek politik ketimbang gerakan kesehatan.
- Korupsi Tersistematis: Melalui instrumen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Tiyo mengungkap adanya potensi laba ilegal yang fantastis. Ia mencontohkan bagaimana oknum elit partai menguasai banyak titik SPPG yang berpotensi menjadi lumbung dana untuk konsolidasi politik 2029.
- Perampasan Anggaran Pendidikan: BEM UGM mengkritik keras pengalihan dana pendidikan sebesar Rp223 triliun untuk MBG. “Konstitusi dilanggar demi proyek yang manfaatnya masih diragukan,” tegasnya.
2. Tragedi NTT: Ironi Rp10 Ribu vs Rp1,2 Triliun per Hari
Salah satu poin paling emosional dalam ulasan ini adalah kasus bunuh diri seorang anak di NTT karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000.
- Tiyo membandingkan tragedi ini dengan anggaran MBG yang menyedot Rp1,2 triliun per hari.
- Ia menyebut ini sebagai “Pembunuhan Struktural”. Ketulian pemerintah terhadap realitas di bawah menunjukkan adanya jarak yang lebar antara angka statistik di istana dengan nyawa rakyat di lapangan.
3. Diplomasi Surat ke UNICEF: Memutus Kebuntuan
Langkah BEM UGM menyurati UNICEF dianggap sebagai tindakan nekat oleh sebagian orang, namun bagi Tiyo, ini adalah keharusan karena kanal komunikasi domestik (DPR dan Yudikatif) dianggap telah mampet.
- Tujuan: Menjadikan isu inkompetensi pengelolaan negara sebagai percakapan global agar Presiden tidak hanya sibuk “bersolek” di depan pemimpin dunia sementara rakyatnya menderita.
4. Teror dan Ancaman: Wajah Asli Demokrasi Hari Ini?
Ulasan ini menyoroti risiko nyata yang dihadapi aktivis mahasiswa. Tiyo mengungkapkan:
- Lebih dari 40 pengurus BEM UGM menerima teror.
- Adanya ancaman penculikan dari nomor asing dan informasi rencana pembunuhan.
- Respon Tiyo tetap teguh: “Jika saya takut, maka teror itu berhasil. Saya harus menghadapinya secara ksatria.”
Tiyo Ardianto bahkan secara berani menyebut kepemimpinan saat ini mengidap inkompetensi laten. Ia menantang Presiden untuk hadir di medan terbuka Universitas Gadjah Mada, berdebat dengan data, bukan sekadar laporan meja yang telah “dipoles” oleh para pembisik.
“Masyarakat itu bukan angka-angka. Mereka adalah manusia. Presiden harus menyaksikannya dengan mata kepala Bapak sendiri, bukan dari angka yang disediakan dalam kertas yang sudah direduksi kenyataannya.” tegasnya




wahh kacau nihh mbg bikin kesel wak, bisa berkedok maling gitu