Pernahkah Anda memperhatikan raut wajah seorang diplomat Iran saat dicecar pertanyaan tajam di panggung dunia? Tidak ada kegugupan, tak ada keraguan. Yang tampak hanyalah tatapan dingin namun penuh percaya diri. Jurnalis senior dan pengamat internasional, Pitan Daslani, menyebut fenomena ini bukan sekadar akting politik, melainkan cerminan dari DNA Bangsa Persia yang telah teruji ribuan tahun.
Bukan Sekadar Arab, Mereka adalah Persia
Kesalahan umum dunia Barat adalah menyamaratakan Iran dengan tetangga-tetangganya. Pitan menekankan bahwa Iran adalah pewaris kekaisaran besar Cyrus the Great. Mereka adalah bangsa Persia yang memiliki jati diri sangat spesifik.
“Mereka memiliki harga diri (dignity) yang berbeda. Jati diri mereka sebagai bangsa yang pernah memimpin peradaban paling maju di dunia tertanam kuat hingga ke tulang sumsum,” ungkap Pitan. Inilah yang membuat mereka merasa setara, bahkan lebih unggul, saat berhadapan dengan kekuatan super power seperti Amerika Serikat.
Filosofi “Bangun Jiwa Sebelum Bangun Badan”
Di tengah kepungan sanksi ekonomi yang mencekik sejak 1979, logika dunia mengira Iran akan runtuh. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mengapa? Pitan melihat adanya penguatan karakter bangsa yang luar biasa.
Selama puluhan tahun diisolasi, Iran justru fokus membangun kekuatan dari dalam. Mereka tidak mengandalkan outsourcing atau tenaga ahli asing. Seluruh ilmuwan nuklir dan arsitek rudal mereka adalah putra asli daerah yang dididik di bawah ideologi “musuh Tuhan adalah mereka yang melawan kedaulatan negara.”
“Mereka bangga menjadi orang Iran. Mereka tidak silau dengan gaya hidup Barat. Saat negara lain sibuk memoles fisik dan gaya hidup, Iran sibuk membangun ‘jiwa’ bangsanya melalui kemandirian teknologi dan ekonomi lokal,” tambah Pitan.
Kemandirian yang Dipaksa Keadaan
Daya tahan Iran, menurut analisis Pitan, lahir dari penderitaan yang dikelola dengan cerdas. Sanksi internasional memaksa mereka menghidupkan sektor domestik, memperkuat UMKM, dan menciptakan inovasi militer dengan biaya rendah namun efektifitas tinggi.
Hasilnya? Mereka menjadi bangsa yang paling siap berperang, baik secara mental maupun logistik, karena sudah terbiasa hidup dalam tekanan selama hampir setengah abad.
Pelajaran dari Teheran
Pitan Daslani menutup analisisnya dengan sebuah refleksi mendalam bagi kita di Indonesia. Kekuatan sebuah bangsa bukan terletak pada seberapa banyak barang mewah yang diimpor atau seberapa megah gedung yang dibangun, melainkan pada seberapa besar rakyatnya bangga terhadap identitas dan produknya sendiri.
Iran telah membuktikan bahwa dengan karakter yang kuat, sebuah bangsa tidak perlu bertekuk lutut pada siapa pun. Mereka berdiri tegak, menunggu di depan pintu rumah mereka, siap menyambut siapa saja yang berani mengusik kedaulatan mereka dengan satu keyakinan: Persia tidak akan pernah menyerah.
Sumber disadur dari kanal YouTube Abraham Samad Speak : Pengamat: 15 Ribu Tentara Amerika Bisa T3w4s & 3 Triliun Dollar Habis Untuk Biaya Perang | #SPEAKUP – YouTube




iran mentalnya mental baja wak ga ada geter geternya di kempung AS sama isrontol