JAKARTA – Perang di Selat Hormuz bukan sekadar urusan ledakan rudal, melainkan pemicu gempa tektonik pada tatanan keuangan dunia. Wartawan senior Pitan Daslani dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak UP menilai, ambisi Amerika Serikat untuk melumpuhkan Iran melalui sanksi ekonomi justru berbalik menjadi senjata makan tuan yang mempercepat proses de-dolarisasi secara global.
Senjata Makan Tuan: Dolar sebagai Alat Perang
Pitan menjelaskan bahwa tindakan Amerika yang memutus akses Iran dari sistem keuangan internasional (SWIFT) telah mengirim pesan peringatan ke seluruh dunia. Negara-negara besar seperti Tiongkok, Rusia, dan India kini menyadari bahwa bergantung pada dolar AS sama saja dengan menyerahkan kedaulatan mereka ke tangan Washington.
“Dunia melihat dolar bukan lagi sebagai alat tukar yang netral, melainkan alat perang. Akibatnya, muncul gerakan masif untuk meninggalkan dolar dalam transaksi minyak dan energi,” ujar Pitan.
2. Poros Baru: Tiongkok dan Rusia Mengambil Alih
Di tengah blokade Amerika, Tiongkok muncul sebagai pemenang strategis. Pitan mencatat bahwa Tiongkok tidak gentar dengan ancaman AS karena mereka telah memiliki cadangan minyak yang sangat berlimpah dan transisi energi terbarukan yang cepat.
Tiongkok dan Rusia secara terang-terangan melakukan veto di PBB bukan hanya untuk membela Iran, melainkan untuk melindungi skema perdagangan baru yang tidak menggunakan dolar. “Antara Rusia, India, dan Tiongkok, perdagangan kini menggunakan mata uang masing-masing. Ini adalah awal dari berakhirnya era Petrodollar yang telah bertahan sejak 1974,” tegasnya.
3. Strategi ‘Sakit Bersama’ Tiongkok
Pitan mengungkap logika unik di balik sikap Tiongkok yang membiarkan Selat Hormuz membara. Tiongkok sengaja membiarkan harga minyak naik akibat konflik tersebut. Mengapa? Karena ketika harga minyak melambung, inflasi akan menghantam ekonomi Amerika dan Eropa lebih keras daripada Tiongkok.
“Tiongkok siap ‘sakit’ sebentar demi melihat ekonomi Amerika rontok karena inflasi. Saat bursa saham Wall Street gonjang-ganjing akibat harga energi, posisi tawar Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi baru justru semakin kokoh,” tambah Pitan.
4. Rontoknya Status ‘Super Power’
Bagi Pitan, kegagalan Amerika menekan Iran melalui blokade laut adalah bukti nyata bahwa status super power AS sedang menuju titik nadir. Jika sebuah negara yang telah diembargo puluhan tahun seperti Iran tetap mampu mengatur irama peperangan dan perdagangan energinya, maka narasi superioritas Amerika sudah tidak relevan lagi.
Menuju Dunia Multipolar
Analisis Pitan Daslani menyimpulkan bahwa krisis Selat Hormuz adalah “titik balik” sejarah. Dunia tidak lagi berputar pada satu sumbu di Washington, melainkan bergeser ke arah Multipolar, di mana aliansi baru (Tiongkok-Rusia-Iran-India) mulai mendikte aturan main ekonomi global tanpa campur tangan dolar.



