Syamsuddin Alimsyah : Dollar AS Jadi Jangkar Ekonomi yang Menyengat Hingga ke Desa

whatsapp image 2026 05 19 at 12.58.50

JAKARTA — Di tengah perdebatan hangat mengenai dampak melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap masyarakat kecil, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Mengapa mata uang dollar Amerika Serikat ($USD$) begitu perkasa hingga gejolaknya mampu menggoyang dapur para petani di pelosok desa?

Pengamat kebijakan publik, Syamsuddin Alimsyah, dalam ulasannya di kanal YouTube Asanesia TV, menegaskan bahwa jawabannya terletak pada status dollar AS yang berfungsi sebagai jangkar utama perdagangan dunia.

Faktanya, arsitektur keuangan global menempatkan dollar AS bukan sekadar mata uang satu negara, melainkan “bahasa ibu” dalam transaksi internasional. Lebih dari 80 persen perdagangan dunia hari ini masih menggunakan dollar AS sebagai mata uang penyelesaian (settlement currency) dan patokan harga standar global.

Mengapa Dunia Bergantung pada Dollar?

Status dollar AS sebagai jangkar global bukanlah tanpa alasan sejarah dan kekuatan ekonomi. Beberapa faktor utama yang mengunci posisi ini antara lain:

  • Mata Uang Komoditas Utama (Petrodollar): Komoditas paling strategis di dunia—mulai dari minyak mentah, gas alam, batubara, hingga bahan pangan pokok seperti gandum, kedelai, dan jagung—seluruhnya dihargai dan ditransaksikan di pasar internasional menggunakan dollar AS.
  • Aset Aman Utama (Safe Haven): Saat terjadi krisis geopolitik atau ketidakpastian ekonomi global, para pelaku bisnis, bank sentral, dan investor di seluruh dunia berbondong-bondong menyelamatkan aset mereka dengan membeli dollar AS atau obligasi pemerintah AS karena dianggap paling likuid dan aman.
  • Dominasi Cadangan Devisa: Mayoritas bank sentral di dunia, termasuk Bank Indonesia, menyimpan sebagian besar cadangan devisa mereka dalam bentuk dollar AS untuk menjaga stabilitas perdagangan luar negeri mereka.

Logika 80 Persen: Jalur Transmisi ke Sektor Riil

Ketergantungan global sebesar 80 persen inilah yang menjelaskan mengapa klaim “orang desa kebal dollar” adalah sebuah kekeliruan yang nyata. Angka dominasi yang masif tersebut menciptakan jalur transmisi yang tak terhindarkan langsung ke jantung perekonomian domestik.

Ketika Indonesia mengimpor bahan baku penting seperti komponen pupuk kimia untuk pertanian, kedelai untuk pengrajin tahu-tempe, atau gandum untuk industri mie instan, transaksi tersebut tidak menggunakan Rupiah, melainkan dollar AS.

Jika nilai tukar Rupiah melemah terhadap sang jangkar dunia, maka importir harus mengeluarkan lebih banyak Rupiah untuk mendapatkan jumlah dollar yang sama. Akibatnya, biaya impor membengkak drastis. Biaya inilah yang kemudian dibebankan kepada konsumen akhir, termasuk masyarakat di pedesaan, dalam bentuk kenaikan harga barang pokok dan biaya produksi pertanian.

Tantangan Dedollarization

Meskipun saat ini mulai marak gerakan pengurangan ketergantungan terhadap dollar AS (dedollarization) melalui kerja sama transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction / LCT) antara Indonesia dengan beberapa negara mitra seperti China, Malaysia, Thailand, dan Jepang, dominasi dollar AS tidak bisa runtuh dalam semalam.

Selama dollar AS masih menguasai 80 persen transaksi global, setiap jengkel pergerakan nilainya akan tetap menjadi penentu hidup-mati daya beli masyarakat bawah.

Oleh karena itu, memahami posisi dollar sebagai jangkar dunia adalah kunci bagi pengambil kebijakan di Istana agar tidak lagi mengeluarkan narasi simplistis yang meninabobokan publik. Menjaga stabilitas mata uang domestik bukan lagi sekadar urusan elit korporasi di kota besar, melainkan benteng pertahanan pertama bagi kesejahteraan para petani dan buruh di seluruh pelosok negeri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top