Ilustrasi gambar
JAKARTA — Kasus dugaan penjemputan paksa dan penyekapan yang menimpa Ilma Sani, putri dari penulis Ahmad Bahar, oleh oknum anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) Grib pimpinan Hercules, diprediksi bakal menjadi ujian berat bagi komitmen Kapolda Metro Jaya dalam memberantas aksi premanisme di ibu kota.
Laporan polisi yang telah dilayangkan korban dipastikan akan memaksa aparat penegak hukum membongkar praktik kejahatan jalanan ala vigilantisme (main hakim sendiri) yang menyasar warga sipil tak berdaya.
Berdasarkan pengakuan langsung Ilma Sani yang diperkuat oleh kesaksian Ahmad Bahar dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP baru baru ini mengurai peristiwa yang dianggapnya telah merampas kemerdekaannya sebagai warga negara dan seorang perempuan yang harusnya dilindungi.
Rentetan Teror Berbasis Manipulasi Teknologi
Prahara ini bermula pada Kamis, 14 Mei 2026, ketika ponsel milik Ahmad Bahar dan Ilma Sani diretas oleh pihak yang tidak dikenal hingga sekarang. Menggunakan nomor WhatsApp Ahmad Bahar yang dikuasai, sang pelaku misterius memproduksi dan mengirimkan video rekayasa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berisi narasi ancaman dan penghinaan yang ditujukan langsung kepada Hercules dan istrinya.

Sehari berselang, Jumat, 15 Mei 2026, empat anggota ormas Grib kemudian mendatangi kediaman Ahmad Bahar untuk melakukan klarifikasi. Pihak Ilma mengaku telah menjelaskan secara detail bahwa nomornya serta nomor ayahnya diretas—bahkan diperkuat dengan bukti digital,—pihak Hercules tetap menolak percaya. Pimpinan ormas tersebut justru melayangkan ancaman balik.
Hari Penjemputan Paksa: Korban Dijadikan Sandera?
Puncak intimidasi fisik akan bergulir pada Minggu siang, 17 Mei 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Empat anggota ormas kembali mendatangi rumah korban untuk mencari Ahmad Bahar. Karena sang ayah sedang berada di Tapos, Bogor, untuk urusan penulisan buku, para pelaku mulai melancarkan tekanan terhadap Ilma Sani yang saat itu hanya berada di rumah bersama neneknya yang sepuh dan adiknya yang sedang sakit.
Oknum pelaku memaksa masuk dan menggeledah seluruh penjuru rumah hingga lantai atas. Setelah memastikan Ahmad Bahar tidak ada, mereka memaksa Ilma Sani untuk ikut ke markas mereka di kawasan Kedoya, Jakarta Barat.
“Mbak siap-siap aja dulu. Kalau Mbak enggak ikut, nanti Mbak diseret karena akan semakin banyak lagi (anggota ormas) yang datang,” ujar Ilma menirukan ucapan intimidatif pelaku yang perlahan mulai mengepung lingkungan rumahnya dengan massa berpakaian hitam.
Ketakutan akan keselamatan nenek dan adiknya membuat Ilma tidak punya pilihan selain menyerah. Ironisnya, proses penjemputan paksa ini terkesan dibiarkan oleh aparatur lingkungan dan hukum setempat. Ketua RW yang datang justru menyetujui agar Ilma ikut ke markas pelaku, sementara oknum petugas Babinkamtibmas yang hadir hanya meminta foto bersama sebagai “jaminan” korban pergi dan pulang dalam kondisi utuh, tanpa melakukan tindakan preventif untuk mencegah penculikan tersebut.
Intimidasi di Markas Ormas Ada Letusan Senjata Api ?
Malam hari di markas Kedoya akan menjadi memori paling traumatik bagi Ilma Sani. Di hadapan puluhan pria, Ilma yang bergerak sendirian tanpa pelindung diinterogasi secara agresif. Hercules secara langsung menolak penjelasan ilmiah mengenai manipulasi video AI tersebut dan terus mencecar korban.
Dalam kondisi psikologis yang hancur, Ilma menerima pelecehan verbal dan intimidasi yang melanggar hak asasi manusia. Atribut keagamaan yang dikenakannya tak luput dari sasaran amarah.
“Kamu ini pakai hijab bukannya jadi anak baik, malah berbuat kayak begini. Udah enggak usah pakai hijab, copot aja tuh hijab kamu!” cecar Hercules sebagaimana ditirukan Ilma dengan suara bergetar.
Tak hanya itu, intimidasi meningkat drastis dengan adanya letusan senjata api yang ditembakkan ke arah bawah di sekitar korban untuk meruntuhkan mentalnya. Ancaman fisik yang brutal pun terlontar dari mulut pimpinan ormas tersebut:
“Kalau bapak kamu ada di sini, sudah saya telanjangi bapak kamu biar kamu yang videokan.” Tuturnya lagi menirukan perkataan Hercules.
Ilma mengaku, dirinya saat itu sempat diberikan kesempatan untuk makan dengan hidangan yang sudah disiapkan pihak Hercules. ‘’Namun karena saya sudah terlanjur lemas dan takut, jadi mau bagaimana makannya,’’ ujarnya.
Ilma sempat ditahan dan dinyatakan tidak boleh pulang sebelum ayahnya datang menyerahkan diri. Korban baru digeser dan dilepaskan di Polres Depok menjelang tengah malam, setelah pihak ormas mengetahui Ahmad Bahar telah mendatangi kantor polisi di Depok dan mendesak pembebasan putrinya. Di bawah tekanan hebat, malam itu sebuah surat kesepakatan damai dipaksakan untuk ditandatangani.
Babak Baru: Hukum Harus Tegak
Drama penyanderaan ini dipastikan tidak akan menguap begitu saja. Kendati sempat dipaksa berdamai dan membuat video testimoni di kawasan Cikini pada hari berikutnya, Ahmad Bahar menegaskan hukum harus tetap ditegakkan demi harga diri putrinya dan perlindungan kaum perempuan.
Melalui Koalisi Ormas Islam untuk Perlindungan Perempuan—yang menggabungkan LBH Muhammadiyah, Persis, Syariat Islam, Hidayatullah, hingga Mathla’ul Anwar—kasus ini telah resmi dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Komnas HAM, Komnas Perempuan, serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Kini kasusnya sedang dalam penanganan Polda Metro Jaya.
Hingga berita diturunkan belum ada penjelasan resmi dari pihak Grib termasuk Polda Metro Jaya tentang perkembangan kasusnya




I’d like to ind out more? I’d want to find ouut sme addiional information.
Haave a loook att mmy weeb blog: bigg boogs xxxx (Georgina)