JAKARTA — Ancaman kejatuhan nilai tukar Rupiah ke level yang lebih dalam kini berada di depan mata. Jika pemerintah tidak segera mengambil terobosan ekstrem, mata uang Garuda diprediksi sangat rapuh untuk meluncur ke zona merah di level Rp19.000 per Dolar AS, terutama jika para spekulan memanfaatkan momentum kritis saat pembayaran utang luar negeri dan impor BBM jatuh secara bersamaan.
Guna meredam risiko fatal tersebut, analis ekonomi politik sekaligus Co-founder Fine Institute, Kusfiardi, mendesak pemerintah dan otoritas terkait untuk segera mengambil langkah-langkah perbaikan struktural yang konkret, alih-alih terus bersembunyi di balik narasi propaganda.
“Pelemahan dari Rp17.000 ke Rp18.000 itu cepat sekali, ini sangat rapuh (fragile). Untuk naik lagi ke Rp19.000 bisa enggak lama, bisa besok. Bukan mau menakut-nakuti, tetapi kalau ketemu momentumnya pemerintah harus bayar utang, impor BBM, dan swasta harus impor bahan baku, seluruh rangkaian yang membutuhkan Dolar itu ketika jatuh bersamaan akan membuat Rupiah melemah dengan sendirinya. Spekulan ikut campur di dalamnya, diambil momentum itu untuk membuat Rupiah terperosok,” ungkap Kusfiardi dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.
Menyikapi alarm bahaya tersebut, Kusfiardi memaparkan empat rekomendasi kebijakan makro-struktural yang harus segera dieksekusi demi menyelamatkan perekonomian nasional:
1. Buka Cetak Biru (Blueprint) Menuju Kedaulatan Ekonomi
Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dituntut segera merilis peta jalan (roadmap) transformasi ekonomi yang transparan dan dapat diukur oleh publik. Langkah ini krusial untuk mengembalikan kepercayaan pasar (trust) yang tengah tergerus.
“Langkah pertama yang sangat ditunggu adalah roadmap menuju kedaulatan ekonomi nasional. Dia harus terjelaskan bangunan struktur ekonomi kita akan seperti apa, apakah ditopang lebih dominan oleh pertanian, peternakan, atau perikanan. Jangan biarkan ruang ini gelap, karena kalau gelap, permainan persepsi akan dibentuk oleh siapa saja dan itu mempengaruhi turun naiknya Rupiah,” tegas Kusfiardi.
2. Akhiri Ego Sektoral Otoritas Moneter dan Fiskal
Kusfiardi mengkritik keras polarisasi dan aksi saling lempar tanggung jawab yang selama ini terjadi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI). Harmonisasi kebijakan antara Kemenkeu, BI, dan OJK harus segera dibangun agar instrumen yang dikeluarkan tidak saling menjatuhkan.
“Jangan naikin tingkat suku bunga terus untuk nahan inflasi. Karena kalau suku bunga naik, pelaku usaha enggak mau ningkatin kapasitas produksi ke depan karena biaya investasi jadi mahal. Kesepahaman ini perlu dibangun agar kebijakan moneter BI tidak kontraproduktif terhadap kebijakan fiskal,” jelasnya.
3. Eksekusi Total Strategi Substitusi Impor
Untuk menghentikan pendarahan devisa, pemerintah harus berani membatasi keran impor dan mengalihkan anggarannya untuk menghidupkan sektor produktif di dalam negeri, khususnya di sektor pangan dan pertanian.
“Dengan mengurangi impor saja, kita sudah menciptakan lapangan pekerjaan baru di dalam negeri dan memperbaiki kemampuan konsumsi kita. Uang yang kita punya harus diinvestasikan untuk membuat sektor produktif di pertanian, peternakan, termasuk nelayan kita, sehingga ekonominya berputar di situ,” tambahnya.
4. Rombak Total Sistem Distribusi Program MBG
Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini dinilai mendistorsi pasar lokal, Kusfiardi merekomendasikan agar sistem Satuan Pelayanan (SPPG) yang terpusat segera dibubarkan dan dialihkan ke pengawasan pemerintah daerah dengan melibatkan ekosistem ekonomi rakyat yang sudah ada.
“MBG itu enggak usah pakai SPPG harusnya. Langsung saja serahkan ke Kabupaten/Kota, lalu mempekerjakan ibu-ibu warung dan kantin di sekitar sekolah. Itu malah lebih baik karena ekonominya akan tumbuh luar biasa dinikmati orang banyak, bukan cuma dinikmati SPPG doang. Kita harus kembalikan kepada jalan penyelesaian yang bisa diukur oleh publik, bukan propaganda,” pungkas Kusfiardi menutup wawancara.
MBG Dikorupsi. Kusfiardi: Kondisi Ekonomi Kita Sudah Bahaya | #SPEAKUP – YouTube



