JAKARTA — Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, terus menyita perhatian publik lewat konsistensinya menggugat kebijakan rezim Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. Kebijakan pemerintah pusat dinilainya tidak pro-rakyat, melainkan pro-pemodal. Salah satu yang paling gencar ia bongkar adalah borok proyek Makan Bergizi Gratis (MBG), yang secara vulgar ia sebut sebagai proyek “Maling Berkedok Gizi”.
Konsekuensi dari keberanian itu mahal. Tiyo kini dibombardir gelombang intimidasi, pembunuhan karakter (bullying), kriminalisasi, hingga demonstrasi bayaran yang dikerahkan untuk menyudutkan dirinya.
Ancaman nyawa ini sejatinya bukan hal baru. Saat tampil dalam program podcast #SPEAKUP di kanal YouTube mantan Ketua KPK, Abraham Samad, beberapa bulan lalu, Tiyo membongkar secara gamblang bagaimana dirinya menjadi sasaran teror sistematis pasca-kritik kerasnya terhadap megaproyek MBG tersebut.
Kronologi Teror: Dari Peretasan hingga Nyawa Orang Tua
Berdasarkan kesaksian Tiyo Ardianto, serangan terhadap dirinya dan fungsionaris BEM UGM terjadi secara terstruktur melalui tiga fase intimidasi:
- Fase I: Pembungkaman DigitalAksi represi dimulai dengan upaya peretasan massal terhadap akun media sosial pribadi Tiyo dan akun resmi BEM UGM. Setelah gagal menguasai platform tersebut, nomor WhatsApp pribadi Tiyo dibanjiri pesan gelap berisi teror dari nomor tak dikenal.
- Fase II: Ancaman Penculikan dan PembunuhanTeror bergeser ke wilayah fisik. Tiyo menerima pesan eksplisit yang mengancam akan “menculik” dan “menghabisi” nyawanya jika ia tidak segera menghentikan narasi kritis terhadap kebijakan pemerintah.
- Fase III: Teror Keluarga (Doxxing)Aksi pengecut pelaku anonim ini memuncak ketika mereka melakukan doxxing (penyebaran data pribadi). Ancaman pembunuhan tidak lagi hanya mengarah pada Tiyo, melainkan menyasar orang tuanya di kampung halaman serta pengurus inti BEM UGM.
“Maling Berkedok Gizi”: Kritik yang Bikin Gerah
Sikap represif ini diduga kuat dipicu oleh keberanian BEM UGM memelesetkan akronim MBG menjadi “Maling Berkedok Gizi”. Kepada Abraham Samad, Tiyo menegaskan bahwa frasa tersebut adalah alarm atas karut-marutnya tata kelola anggaran negara.
BEM UGM mengendus potensi korupsi struktural skala besar yang berlindung di balik anggaran kesejahteraan anak sekolah. Mereka menilai infrastruktur logistik di lapangan sangat rapuh, rentan salah sasaran, dan rawan menjadi ladang “bancakan” elite politik demi pencitraan jangka pendek, alih-alih menyelesaikan akar masalah kemiskinan dan stunting.
“Lanjutkan saja terornya,” tantang Tiyo Ardianto, menegaskan bahwa ancaman mati tidak akan menyurutkan langkah mahasiswa mengawal uang rakyat.
Hingga kini, gelombang solidaritas dari elemen mahasiswa dan aktivis HAM terus mengalir. Mereka mendesak aparat penegak hukum segera mengusut tuntas dalang di balik teror ini dan menjamin keselamatan para aktivis yang bersuara.
Kesaksian lengkap dan poin-poin krusial pembongkaran proyek MBG oleh Tiyo Ardianto dapat disaksikan melalui video YouTube #SPEAKUP: Diteror & Dapat Ancaman Pembunuhan. Ketua BEM UGM: MBG, Maling Berkedok Gizi?.



