JAKARTA — Menghadapi ancaman kelumpuhan kekuasaan akibat pembangkangan struktural dan tekanan faksi politik internal, Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, menawarkan tiga solusi politik mendasar bagi Presiden Prabowo Subianto. Rekomendasi ini dinilai sebagai langkah krisis yang harus segera diambil jika Prabowo ingin mempertahankan independensi dan efektivitas pemerintahannya.
Pandangan tersebut dipaparkan Said Didu saat berdiskusi di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP. Menurutnya, Presiden Prabowo kini telah berada di “ronde terakhir” untuk menentukan arah kepemimpinannya menuju pertengahan masa jabatan.
“Ronde terakhir itu kalau Bapak tidak meng-KO, maka mungkin kalah angka,” imbau Said Didu, menegaskan perlunya tindakan politik yang terukur dan berani.
Berikut adalah tiga solusi politik utama yang disodorkan Said Didu untuk Presiden Prabowo:
- Bersihkan Kabinet Melalui Reshuffle Radikal: Prabowo didesak untuk segera merombak kabinet dan membuang menteri-menteri yang dinilai tidak loyal, pasif, atau sekadar titipan kompromi politik. Sebagai gantinya, presiden harus mengisi posisi kunci dengan figur-figur kritis, profesional, dan berani yang siap pasang badan mengeksekusi visi presiden di sektor energi, pertambangan, dan kehutanan.
- Perkuat dan Lindungi Benteng Penegakan Hukum: Pemerintah dituntut memberikan perlindungan penuh serta memperluas kewenangan tim penertiban sumber daya alam dan aparat penegak hukum dari serangan opini maupun intervensi faksi penyeimbang. Menurut Said Didu, simpul penegakan hukum ini adalah benteng pertahanan terakhir Prabowo dari ancaman pembangkangan internal.
- Hentikan Rekonsiliasi Semu dan Lepas dari Bayang-bayang Dinasti: Prabowo diimbau meninggalkan paradigma kompromi total yang merangkul faksi non-loyal. Presiden harus membangun basis legitimasi independen yang berakar langsung pada dukungan publik, bukan bergantung pada loyalitas rapuh dari partai-partai politik pragmatis.
Langkah-langkah radikal ini dinilai sebagai satu-satunya jalan bagi Prabowo untuk mematahkan konsolidasi kekuatan yang mencoba melumpuhkan kepemimpinannya secara perlahan dari dalam maupun luar rezim.



