JAKARTA – Posisi Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah kini diibaratkan sedang menggenggam bara api. Pengamat internasional, Hasibullah Sastrawi, mengungkap bahwa Washington tengah terjepit dalam dilema politik yang luar biasa hebat: menjaga loyalitas tanpa syarat kepada Israel atau terseret ke dalam lubang hitam perang regional yang tidak mereka inginkan.
Dalam ulasannya di kanal Abraham Samad SPEAK UP, Hasibullah membedah bagaimana kebijakan luar negeri AS kini seolah “tersandera” oleh dinamika politik domestik dan manuver agresif Tel Aviv di lapangan.
Dilema “Cek Kosong” Washington
Hasibullah menyoroti bahwa Amerika Serikat berada dalam posisi sulit karena dukungan militer dan politik mereka seringkali digunakan Israel sebagai “cek kosong” untuk melakukan eskalasi. Di satu sisi, Gedung Putih ingin mencegah perang meluas demi stabilitas ekonomi global, namun di sisi lain, mereka tidak berdaya menekan Israel karena kuatnya lobi politik di dalam negeri Amerika.
“Amerika ingin de-eskalasi, tapi mereka tidak bisa melepaskan dukungan kepada Israel. Inilah celah yang dimanfaatkan Israel untuk terus menekan Iran, karena mereka tahu AS pada akhirnya akan selalu pasang badan,” ujar Hasibullah.
Manuver Israel di Musim Politik AS
Analisis Hasibullah kian tajam saat menyinggung soal waktu (timing). Israel dinilai sangat cerdik memanfaatkan situasi politik domestik AS, terutama menjelang atau di tengah transisi kekuasaan.
Menurutnya, Israel sadar bahwa tidak ada kandidat Presiden AS yang berani bersikap keras terhadap mereka demi mengamankan suara dan dukungan finansial. “Israel memanfaatkan kelemahan posisi politik domestik AS ini untuk memaksakan agenda keamanannya sendiri, bahkan jika itu harus merusak rencana diplomasi AS dengan Iran,” tambahnya.
Risiko “Overstretch” Militer
Lugas dan tanpa basa-basi, Hasibullah memperingatkan bahwa jika AS gagal mengendalikan ritme serangan Israel, mereka akan dipaksa melakukan military overstretch. Di saat AS harus fokus pada persaingan dengan Tiongkok di Pasifik dan perang di Ukraina, terseret kembali ke dalam perang besar di Timur Tengah adalah skenario mimpi buruk bagi Pentagon.
“Washington sedang dipaksa memilih: membiarkan sekutu terdekatnya bermain api sendirian dengan risiko kekalahan, atau ikut terjun ke medan tempur yang akan menguras seluruh energi dan reputasi internasional mereka,” pungkasnya.


