Konflik Iran-AS: Indonesia Tegaskan Netralitas Bukan Berarti “Diam” Terhadap Agresi

whatsapp image 2026 05 08 at 15.53.18

JAKARTA – Di tengah eskalasi militer yang kian memanas antara Iran dan aliansi Amerika-Israel, posisi Indonesia kini menjadi sorotan. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar sekaligus pemegang teguh mandat anti-penjajahan, Jakarta diingatkan untuk tidak terjebak dalam “netralitas buta” yang justru menguntungkan pihak agresor.

Pakar hubungan internasional dan mantan perwira tinggi TNI AU, Marsekal Pertama TNI (Purn) Agung Sasongko Jati, memberikan catatan kritis mengenai peran Indonesia sebagai pengamat internasional. Dalam diskusinya di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, ia menekankan bahwa Indonesia harus memiliki keberanian moral untuk bersikap adil.

Netralitas yang Berpihak pada Kebenaran

Agung Sasongko Jati menegaskan bahwa konsep netralitas Indonesia dalam politik luar negeri “Bebas Aktif” tidak boleh diartikan sebagai sikap pasif saat melihat pelanggaran hukum internasional.

“Dalam konteks perang Iran-Amerika ini, jika satu negara melakukan tindakan ilegal yang melanggar aturan internasional dan negara lain menjadi korban, maka netralitas yang diam justru berarti berpihak pada agresor,” tegas Agung.

Ia menarik garis paralel dengan isu Palestina-Israel, di mana Indonesia tidak mungkin netral karena ada pihak yang menjajah dan yang dijajah. Menurutnya, hal yang sama berlaku jika agresi dilakukan secara sepihak terhadap kedaulatan sebuah negara.

Konstitusi Sebagai Panglima Diplomasi

Indonesia diingatkan kembali pada amanah Pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Agung menilai, dalam kasus ketegangan di Teluk Persia, Indonesia harus berdiri pada prinsip anti-imperialisme.

“Kita tidak harus bermusuhan dengan Amerika, dan tidak harus menjadi sekutu buta Iran. Namun, kita harus tegas menunjukkan posisi mana yang benar secara hukum internasional dan mana yang salah. Kita harus membela pihak yang dirugikan oleh agresi,” tambahnya.

Menolak Hegemoni, Mendukung Multilateralisme

Sebagai pengamat, Indonesia juga melihat fenomena menurunnya pengaruh hegemoni tunggal Amerika Serikat di Timur Tengah sebagai momentum lahirnya tatanan dunia baru. Munculnya potensi organisasi keamanan regional di Timur Tengah (seperti wacana METO – Middle East Treaty Organization) menunjukkan bahwa ketergantungan pada kekuatan Barat mulai memudar.

Indonesia, menurut analisis Agung, harus jeli melihat pergeseran tektonik ini. Jakarta perlu mendukung stabilitas yang berbasis pada kesetaraan antarnegara, bukan dominasi kekuatan senjata satu pihak.

Simpati pada Korban Agresi

Meskipun kepentingan ekonomi nasional sering kali menjadi pertimbangan dalam hubungan bilateral, Agung mengingatkan agar harga diri bangsa dan nilai kemanusiaan tidak dikorbankan. Indonesia diharapkan terus menyuarakan simpati kepada pihak yang menjadi korban agresi, baik secara diplomatik maupun melalui narasi di panggung global.

“Posisi kita harus menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang teguh pada nilai, bukan bangsa yang bisa didikte oleh kekuatan hegemonik mana pun,” pungkas Agung Sasongko Jati.

Perang Meletus? Iran Produksi Ratusan Drone Dalam Sehari, 1500-2000 Rudal Balistik Setahun – YouTube

1 komentar untuk “Konflik Iran-AS: Indonesia Tegaskan Netralitas Bukan Berarti “Diam” Terhadap Agresi”

Tinggalkan Balasan ke someone Batalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top