JAKARTA — Pengamat politik dan media Lukas Luwarso melontarkan kritik menohok atas manuver Rocky Gerung yang bersedia masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Dalam tayangan di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Lukas menilai langkah akademisi yang dulunya identik dengan tagline “akal sehat” tersebut kini justru menandai pergeseran drastis menuju “akal sesat.”
Lukas menyebut perubahan haluan tersebut sebagai bentuk tragedi intelektual, di mana nalar kritis yang dahulu digelorakan untuk melawan kesewenang-wenangan kini luntur dan terkooptasi oleh kenyamanan jabatan.
Poin-Poin Kunci Pernyataan Lukas Luwarso:
- Pergeseran dari “Akal Sehat” ke “Akal Sesat” Lukas menilai jargon “akal sehat” yang selama ini melekat pada sosok Rocky Gerung runtuh seketika saat ia memilih bergabung ke dalam sistem pemerintahan. Keputusan tersebut dinilai bukan lagi cerminan nalar kritis, melainkan bentuk “akal sesat” yang membenarkan kompromi demi panggung kekuasaan.
- Gimmick “Kritis dari Dalam” sebagai Apologi Narasi dan klaim Rocky yang menyebut kepindahannya sebagai “radical break” serta berjanji akan tetap kritis dari dalam pemerintahan ditanggapi dingin oleh Lukas. Ia menilai dalih tersebut sekadar pembenaran (apologi) yang menggelikan, sebab dalam praktiknya, siapapun yang masuk ke dalam lingkaran Istana akan melunak dan tunduk pada kompromi politik.
- Demokrasi Kehilangan Suara Kritis Utama Masuknya Rocky ke lingkar kekuasaan dinilai Lukas mempertegas fenomena penjinakan oposisi. Publik dan ruang demokrasi di luar pemerintah kini makin kehilangan figur penyeimbang yang berani menyuarakan kritik independen tanpa dibayangi vested interest atau kepentingan jabatan.
- Krisis Konsistensi Figur Intelektual Lukas menyayangkan bagaimana konsistensi dan integritas pemikiran seorang akademisi publik bisa goyah oleh tawaran posisi. Fenomena ini memperlihatkan betapa rapuhnya benteng pertahanan moral elite intelektual ketika diperhadapkan pada tawaran akomodasi dari “negara kepejabatan.”



