JAKARTA – Strategi intelijen Barat di Timur Tengah dinilai tengah menghadapi kebuntuan besar. Pengamat intelijen dari Universitas Indonesia, Ridwan Hamid, menyebut telah terjadi miskalkulasi fatal yang dilakukan oleh Mossad (Israel) dan CIA (Amerika Serikat) dalam memprediksi transisi kekuasaan dan stabilitas politik di Iran pasca-wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei.
Dalam diskusi mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Ridwan Hamid mengungkapkan bahwa skenario yang disusun intelijen Barat—yang mengharapkan munculnya rezim pro-Barat atau pemimpin yang kompromistis—justru berujung pada penguatan garis keras Teheran.
Kegagalan Skenario Transisi
Menurut Ridwan, Mossad sebelumnya memprediksi bahwa kematian Ali Khamenei akan memicu gejolak rakyat yang menuntut perubahan haluan politik. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya: gelombang kemarahan rakyat Iran terhadap AS dan Israel justru semakin solid.
“Skenario pertama mereka gagal total karena masyarakat justru berlomba-lomba meneriakkan perlawanan. Skenario kedua, yakni munculnya figur kompromistis, juga patah setelah Dewan Tinggi Ulama menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus,” ujar Ridwan.
Mojtaba Khamenei: Ancaman Baru yang Lebih Taktis
Ridwan Hamid menekankan bahwa kemunculan Mojtaba Khamenei merupakan “bencana” bagi kalkulasi Barat. Berbeda dengan ayahnya yang lebih menonjol sebagai pemimpin spiritual, Mojtaba memiliki rekam jejak di unit intelijen taktis Garda Revolusi Iran (IRGC).
Beberapa poin krusial terkait figur Mojtaba yang disoroti meliputi:
- Kapasitas Intelijen: Memiliki kemampuan operasional dan taktis yang lebih canggih dibandingkan generasi sebelumnya.
- Supervisi Nuklir: Dikenal sebagai sosok yang secara agresif mendorong percepatan pengayaan uranium Iran untuk kepentingan senjata nuklir.
- Jejaring Luas: Memiliki komunikasi yang terjaga dengan para pemimpin negara Teluk dan aset strategis di luar negeri, membuatnya menjadi target yang sulit dieliminasi oleh operasi intelijen lawan.
Adu Cerdas di Balik Layar
Lebih jauh, Ridwan memaparkan bahwa konflik saat ini bukan sekadar adu kekuatan rudal, melainkan perang dingin intelijen tingkat tinggi. Ia menduga Iran mendapat dukungan koordinat eksak dari satelit Rusia (FSB) dan intelijen Tiongkok (MSS) untuk menembus pertahanan udara Israel dan sekutunya.
“Ini adalah pertarungan antara CIA-Mossad melawan aliansi FSB Rusia, MSS Tiongkok, dan VEVAK Iran. Mossad gagal dalam tugas utama intelijen, yaitu mengubah lawan menjadi kawan (from enemy to bestie). Di Iran, faktor intensi atau niat ideologis untuk melawan justru semakin meningkat,” tegasnya.
Peringatan bagi Kepentingan Domestik AS
Ridwan juga mengingatkan bahwa agresi langsung yang dipaksakan oleh pemerintahan Donald Trump dapat memicu aktifnya sel-sel tidur intelijen Iran di seluruh dunia. Hal ini, menurutnya, telah diperingatkan oleh CIA dalam berbagai jurnal internal mereka bahwa menyerang Iran secara terbuka hanya akan merugikan kepentingan domestik Amerika Serikat.
Penunjukan Mojtaba Khamenei dianggap sebagai simbol kegagalan intelijen Barat dalam membaca psikologi massa dan struktur kekuasaan Iran yang telah menyiapkan lapisan kepemimpinan hingga tujuh lapis ke bawah.




elit dunia emang gila pak