WASHINGTON D.C. — Harapan perdamaian di Asia Barat kembali pupus setelah draf gencatan senjata sementara berdurasi 60 hari membeku di meja perundingan. Benturan ego dan prasyarat absolut yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Mustaba Khamenei menjadi dinding tebal yang mustahil ditembus oleh jalur diplomasi.
Kedua pemimpin tertinggi tersebut hingga kini menolak menandatangani dokumen kesepakatan, memicu eskalasi militer baru yang membuat situasi geopolitik kawasan kembali ke titik paling krusial.
Pengamat Hubungan Internasional, Pitan Daslani, mengungkapkan bahwa mandeknya kesepakatan ini dipicu oleh manuver sepihak Washington yang tiba-tiba memasukkan poin baru di luar agenda perundingan awal. Donald Trump menuntut agar draf perdamaian baru bisa disahkan jika lima negara Arab ditambah Pakistan bersedia menandatangani Abraham Accords—sebuah klausul politik untuk normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
“Persoalan Abraham Accords ini tidak pernah ada dalam persyaratan sebelumnya. Begitu dokumen sampai di Gedung Putih, Trump membacanya lalu mendadak memajukan prasyarat politik tersebut,” ujar Pitan Daslani dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Jumat (12/6).
Langkah Trump langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Ayatullah Mustaba Khamenei membalas manuver tersebut dengan mengeluarkan instruksi ideologis yang tegas kepada seluruh faksi perlawanan, khususnya Hezbollah di Lebanon, untuk melipatgandakan serangan ke wilayah Israel.
Teheran menegaskan tidak akan ada kata damai dengan Amerika Serikat jika Washington mengisolasi sekutu-sekutu dekat Iran. Khamenei bersikeras bahwa setiap draf perdamaian harus menjadi satu paket komprehensif yang mencakup penghentian agresi terhadap Hezbollah di Lebanon, Hamas di Gaza, Houthi di Yaman, hingga milisi pro-Iran di Irak.
Lebih jauh, eskalasi militer ini dipandang Iran sebagai langkah defensif yang wajib diambil demi membendung ambisi geopolitik Tel Aviv.
“Mustaba Khamenei secara eksplisit menyerukan Hezbollah untuk terus menyerang guna mencegah Israel menjalankan ekspansi ‘Greater Israel’—konsep Israel Raya yang membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat. Ini adalah posisi ideologis Iran yang tidak bisa ditawar,” tegas Pitan.
Akibat benturan prasyarat yang sama-sama ekstrem ini, koridor diplomasi resmi dianggap telah mati. Pengamat menilai kawasan kini memasuki fase berbahaya di mana hukum rimba militer dan perang proksi akan mendikte masa depan Timur Tengah, sementara draf perdamaian dari meja perundingan hanya berakhir menjadi tumpukan kertas tak berargumen.



