JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah telah mencapai titik didih baru seiring keberhasilan Iran melakukan blokade strategis di Selat Hormuz. Bukan sekadar pamer kekuatan militer, langkah Teheran menutup jalur navigasi internasional ini dinilai sebagai langkah legal sekaligus mematikan yang mampu melumpuhkan stabilitas ekonomi negara-negara adidaya.
Pengamat hubungan internasional dan militer, Marsekal Pertama TNI (Purn) Agung Sasongko Jati, menegaskan bahwa dominasi Iran di wilayah ini telah mengubah peta kekuatan di kawasan Teluk. Dalam diskusi mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, ia menyebut Iran kini memegang kendali penuh atas “keran” energi dunia.
Blokade Legal Berdasarkan Keamanan Nasional
Menurut Agung, tindakan Iran menutup Selat Hormuz bagi Amerika Serikat dan sekutunya memiliki basis legalitas dalam hukum perang jika dianggap sebagai langkah pengamanan teritorial.
“Iran berhak melakukan tindakan pengamanan teritorial demi keamanan nasionalnya. Mengingat pangkalan-pangkalan AS mengepung mereka di Kuwait, Bahrain, hingga Qatar, penutupan teluk adalah respon defensif yang sah,” ungkap Agung Sasongko Jati.
Dampaknya instan dan destruktif. Dunia menyaksikan lonjakan harga minyak yang merangkak naik dari angka 67 dolar ke kisaran 90 dolar per barel, menciptakan inflasi yang menghantui pasar global.
Perang Asimetris: Menguras Napas Amerika
Strategi Iran tidak lagi mengejar konfrontasi terbuka kapal lawan kapal, melainkan melalui perang saraf dan gesekan asimetris. Dominasi ini terlihat saat kapal-kapal perang AS terpaksa berhadapan dengan tembakan peringatan (warning shots) dari rudal-rudal Iran saat mencoba memasuki Teluk Oman.
Agung Sasongko Jati menyoroti bagaimana Amerika Serikat kini berada dalam posisi terjepit secara logistik. “Amerika memiliki kekuatan militer hebat, tapi mereka tertahan karena masalah ekonomi. Mereka mulai kehabisan rudal pencegat yang sangat mahal untuk melindungi pangkalan mereka, sementara stok drone dan rudal Iran seolah tidak ada habisnya,” jelas mantan penerbang F-16 tersebut.
Kerapuhan ‘Iron Dome’ dan Ancaman Terhadap Sekutu
Dominasi Iran juga dibuktikan melalui infiltrasi drone ke wilayah strategis seperti Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA). Meskipun UEA telah memperbarui sistem pertahanan Patriot dan mendatangkan Iron Dome dari Israel, satu unit drone dilaporkan berhasil menembus pertahanan tersebut.
Hal ini, menurut analisis Agung, mengirimkan pesan jelas kepada sekutu AS di kawasan: Bahwa perlindungan Amerika tidak lagi absolut. Iran berhasil menunjukkan bahwa teknologi tercanggih Barat sekalipun memiliki celah yang bisa dieksploitasi oleh drone murah mereka.
Menurunkan Level Adidaya
Kesimpulan dari eskalasi ini bukan hanya soal kemenangan militer di lapangan, melainkan penurunan status politik Amerika Serikat di mata dunia. Agung Sasongko Jati menggunakan istilah humiliation (penghinaan/penurunan level) untuk menggambarkan posisi AS saat ini.
“Amerika sudah tidak lagi diterima sebagai hegemon tunggal di kawasan ini. Negara-negara lain mulai melihat Iran sebagai penguasa sah Selat Hormuz dan Teluk Persia. Ini adalah pergeseran tektonik dalam hubungan internasional di mana kekuatan regional mampu memaksa negara adidaya untuk tunduk pada tekanan ekonomi dan geografis,” pungkasnya.




kacau bbm di tahan bukan ga di bolehin