Jakarta – Diskusi di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP menghadirkan ekonom senior Yanuar Rizky, yang menyoroti tajam dampak pelemahan rupiah terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurutnya, pelemahan nilai tukar bukan sekadar isu makro, melainkan ancaman nyata bagi daya beli rakyat.
“Daya beli masyarakat sudah jelas terjun bebas. Inflasi membuat harga kebutuhan pokok melambung, sementara pendapatan riil tidak bergerak. Akibatnya, konsumsi rumah tangga yang selama ini jadi motor pertumbuhan ekonomi, kini melemah drastis,” tegas Yanuar.
Inflasi Menggerus Pendapatan
Yanuar menjelaskan bahwa kenaikan harga barang kebutuhan pokok menekan kelompok menengah ke bawah.
“Rakyat kecil paling terdampak. Mereka harus mengurangi belanja, bahkan untuk kebutuhan dasar. Ini bukan sekadar statistik, tapi kenyataan pahit di pasar dan dapur rumah tangga,” ujarnya.
Risiko Krisis Sosial
Ia memperingatkan bahwa pelemahan daya beli bisa berujung pada krisis sosial.
“Kalau daya beli terus jatuh, bukan hanya ekonomi yang terguncang. Ada potensi gejolak sosial karena rakyat tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidupnya,” kata Yanuar.
Kritik terhadap Kebijakan
Dalam dialog yang dipandu Abraham Samad, Yanuar menilai pemerintah belum menunjukkan langkah strategis.
“Subsidi dan intervensi pasar itu hanya tambal sulam. Yang dibutuhkan adalah kebijakan fiskal yang tajam, berpihak pada rakyat, dan memperkuat produksi domestik,” ujarnya.
Pandangan Yanuar Rizky menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan hanya soal angka di pasar valuta asing. Dampak paling nyata adalah jatuhnya daya beli masyarakat, yang bisa memicu krisis ekonomi sekaligus krisis sosial. Pesan utamanya jelas: tanpa kebijakan yang berani dan berpihak pada rakyat, pelemahan rupiah akan menjadi bom waktu bagi stabilitas nasional.



