Antara Karpet Usang dan Imperium Bisnis: Menakar Dikotomi Kekuasaan Ali Khamenei

whatsapp image 2026 05 13 at 10.44.58 (1)

Disadur dari kanal Youtube Abraham Samad Speak UP dengan Narasumber Prof. Dr. Kholid Al-Walid, M.Ag. (Guru Besar Filsafat Islam UIN Jakarta)

JAKARTA – Di sebuah sudut kota Tehran yang dijaga ketat, terdapat sebuah rumah yang menantang segala logika tentang kemegahan seorang penguasa. Di sana, seorang pria tua hidup dengan standar yang mungkin lebih rendah dari pegawai kelas menengah di Jakarta. Ia tidak memiliki kulkas mewah, dan kabarnya, menu makan siangnya tak jauh dari sepotong semangka pasar yang juga dimakan rakyatnya.

Pria itu adalah Ayatollah Ali Khamenei. Namun, di balik dinding rumah dua kamarnya yang bersahaja, terbentang sebuah paradoks yang menjadi perbincangan hangat di panggung politik global: Dikotomi antara hidup pribadi yang “Zuhud” dan kekuasaan institusional yang raksasa.

Hidup Pribadi: Selesai dengan Materi

Dalam diskusinya bersama Abraham Samad, Prof. Kholid Al-Walid membedah bahwa kesederhanaan Khamenei bukanlah sekadar gaya hidup, melainkan pondasi otoritas moral.

“Beliau benar-benar mempraktikkan hidup yang selesai dengan urusan materi,” ujar Prof. Kholid. Salah satu kutipan yang paling membekas adalah saat ia menceritakan penolakan Khamenei terhadap fasilitas dasar.

“Pernah stafnya ingin menyediakan kulkas yang lebih layak, tapi beliau bertanya: ‘Apakah rakyatku yang paling miskin sudah punya ini?’ Jika belum, beliau tidak akan memakainya. Begitu juga dengan semangka. Beliau memakan apa yang tersedia di pasar rakyat. Kalau semangkanya tawar karena musim, ya beliau ikut merasakan ketawaran itu,” ungkap Prof. Kholid dengan nada dalam.

Institusi: Brankas Raksasa di Balik Jubah

Namun, jurnalisme yang jernih harus melihat sisi lain mata uang. Di tangan sang Rahbar, terdapat kendali atas institusi seperti Setad atau Bonyad—imperium bisnis dan yayasan yang asetnya diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar. Inilah dikotomi yang sering memicu perdebatan: Bagaimana seorang pria yang tak punya kulkas pribadi bisa mengendalikan ekonomi sebuah negara?

Prof. Kholid meluruskan bahwa di sinilah letak perbedaan antara “memiliki” dan “mengelola”.

“Secara institusional, kekuasaannya absolut atas aset negara. Namun secara personal, sepeser pun uang itu tidak masuk ke kantong pribadi atau keluarganya. Inilah yang disebut sebagai amanah kepemimpinan dalam filsafat Islam. Ia menguasai dunia, tapi dunia tidak menguasainya,” tegas Prof. Kholid.

Otoritas Moral di Tengah Sanksi

Bagi masyarakat luar, dikotomi ini mungkin terlihat seperti kontradiksi. Namun bagi rakyat Iran yang terhimpit sanksi ekonomi Barat selama puluhan tahun, gaya hidup pribadi sang pemimpin adalah “obat” yang meredam gejolak.

Ketika rakyat diminta berhemat, mereka melihat pemimpinnya sudah lebih dulu hidup melarat. Ketika rakyat diminta melawan, mereka melihat pemimpinnya duduk di atas karpet yang sudah menipis bulunya.

“Kekuatan Iran bukan pada rudalnya, tapi pada kepercayaan rakyat bahwa pemimpinnya tidak sedang memperkaya diri di atas penderitaan mereka,” tambah Prof. Kholid dalam wawancara tersebut.

Penutup: Sebuah Anomali Politik

Pada akhirnya, kisah rumah dua kamar dan semangka pasar ini adalah sebuah anomali di era politik modern yang serba pamer. Ali Khamenei membangun sebuah narasi bahwa kekuasaan tidak harus berbanding lurus dengan kemewahan.

Apakah dikotomi ini akan terus bertahan di tengah arus modernisasi dan tuntutan generasi muda Iran? Waktu yang akan menjawab. Namun untuk saat ini, karpet usang di Tehran itu tetap menjadi simbol yang lebih kuat dari protokol istana mana pun di dunia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top