JAKARTA — Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kini dinilai bukan lagi sekadar partai politik bagi generasi muda, melainkan telah beralih fungsi menjadi kendaraan politik utama demi meloloskan dan menjaga eksistensi dinasti politik Gibran Rakabuming Raka menuju Pemilu 2029.
Tesis mendalam tersebut diungkapkan oleh Pengamat Komunikasi Politik dan Militer dari Universitas Nasional (Unas), Dr. Selamat Ginting, saat menjadi narasumber dalam dialog di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP yang disiarkan pada akhir Juni 2026.
Selamat Ginting menyoroti fenomena unik di mana Joko Widodo (Jokowi) kini secara terang-terangan memakai atribut partai dan memimpin langsung safari politik PSI ke berbagai daerah, termasuk ke Provinsi Lampung. Langkah agresif mantan presiden ini dinilai sebagai upaya darurat akibat ketidakmampuan sang anak bungsu, Kaesang Pangarep selaku Ketua Umum PSI, dalam mendongkrak elektabilitas partai di level nasional.
“Mengapa dia (Jokowi) juga memimpin safari politik PSI? Artinya PSI ini tidak punya tokoh yang kuat. Kayak sang anaknya itu tidak mampu mendongkrak,” ujar Selamat Ginting secara lugas. “Jokowi yang malu-malu kucing… sekarang sulit dipastikan bahwa safari politik Jokowi ini tidak terkait dengan PSI. Pastilah terkait dengan PSI, apalagi pakai jaket PSI.”
Menyelamatkan Gibran yang Tak Berpartai
Sebagai jurnalisme senior, terbaca jelas adanya kepanikan geopolitik domestik di lingkaran keluarga Jokowi. Gibran Rakabuming Raka, yang saat ini menduduki kursi Wakil Presiden, praktis tidak memiliki rumah politik formal setelah hubungan keluarganya retak dengan PDI Perjuangan.
Tanpa kepemilikan partai politik yang solid, posisi Gibran menjelang Pemilu 2029 berada dalam posisi yang sangat rentan, terutama di tengah prediksi bahwa koalisi utama pemerintahan saat ini tidak akan lagi menggaransi posisinya di periode kedua. Oleh karena itu, meloloskan PSI melewati ambang batas parlemen (parliamentary threshold) menjadi harga mati bagi Jokowi agar sang anak sulung memiliki posisi tawar yang kuat di masa depan.
“Bahwa safari politik Jokowi ini pasti juga terkait dengan Gibran. Gibran yang sekarang menjadi wapres itu ada di kepala Jokowi bagaimana anaknya ini tetap berada di kancah elit nasional,” tambah Slamet Ginting.
Musuh Bersama Partai Politik
Namun, ambisi menjadikan PSI sebagai sekoci penyelamat dinasti ini diprediksi akan menghadapi jalan terjal. Manuver Jokowi yang membawa kekuatan logistik besar untuk membesarkan PSI di daerah-daerah basis partai lain dinilai dapat memicu resistensi dari partai-partai koalisi besar lainnya. PSI kini berpotensi dipandang sebagai ancaman langsung dalam perebutan ceruk suara pemilih di akar rumput.
“Uang bagi Jokowi itu bukan masalah, bisa dianggap secara politik unlimited uangnya… Karena itu PSI bisa dianggap sebagai musuh bersama bagi partai-partai politik itu,” pungkas Selamat.
Langkah mematangkan PSI sejak dini menegaskan bahwa safari politik ini adalah bentuk investasi kekuasaan jangka panjang. Ketika sang ayah tidak lagi memegang kendali formal di Istana, maka jalur kepartaian melalui PSI menjadi satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa untuk memastikan dinasti Gibran tidak layu sebelum berkembang pada Pemilu 2029.



