JAKARTA – Pengamat Timur Tengah, Hasibullah Sastrawi, melontarkan analisis tajam terkait memanasnya situasi di kawasan Teluk. Tampil dalam diskusi di kanal Abraham Samad SPEAK UP yang diunggah, Selasa 14/6/2026 kemarin, Hasibullah secara gamblang menyebut bahwa rentetan eskalasi yang terjadi saat ini merupakan upaya sistematis Israel untuk menggagalkan setiap celah perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Hasibullah menilai, normalisasi hubungan Teheran-Washington adalah skenario terburuk bagi Tel Aviv. “Ada upaya sadar untuk memutus kabel diplomasi. Israel berkepentingan agar Amerika Serikat tetap berada dalam mode konfrontasi penuh terhadap Iran,” ujarnya.
Diplomasi di Ujung Tanduk
Menurut Hasibullah, setiap kali muncul sinyal de-eskalasi atau potensi kembalinya kesepakatan nuklir, selalu muncul “gangguan” di lapangan. Gangguan ini bisa berupa serangan siber, pembunuhan tokoh strategis, hingga operasi militer provokatif yang memaksa Iran untuk bereaksi keras.
Tujuannya jelas: menciptakan situasi di mana diplomasi menjadi mustahil dan perang terbuka menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa di meja gedung putih.
Menarik AS ke Pusaran Konflik
Lebih lanjut, analisis Hasibullah menyoroti strategi “umpan” yang dimainkan Israel. Dengan memancing reaksi militer dari Iran atau faksi-faksi proksinya seperti Hezbollah dan Houthi, Israel tengah membangun justifikasi agar Amerika Serikat terseret lebih jauh ke dalam medan tempur.
“Israel ingin memastikan bahwa jika perang pecah, mereka tidak sendirian. Mereka butuh kekuatan militer AS untuk melumpuhkan kapabilitas strategis Iran secara total,” tulis catatan diskusi tersebut.
Dampak Global: Lebih dari Sekadar Mesiu
Lugasnya bahasa Hasibullah mengingatkan publik bahwa konflik ini bukan hanya soal peluru dan rudal. Sabotase diplomasi ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia, terutama keamanan jalur pasokan energi di Selat Hormuz.
Hasibullah memperingatkan bahwa selama aktor-aktor regional terus melakukan sabotase terhadap meja perundingan, maka perdamaian di Timur Tengah akan tetap menjadi fatamorgana. Dunia kini tengah menyaksikan bagaimana sebuah negara mampu mendikte arah kebijakan luar negeri negara adidaya melalui eskalasi yang terkontrol namun mematikan.



