Strategi “Licik” Israel: Menyeret AS Perang Besar dengan Iran

whatsapp image 2026 04 15 at 11.35.48 (1)

JAKARTA – Analisis tajam mengenai memanasnya suhu politik di Timur Tengah kembali mengemuka. Pengamat internasional, Hasibullah Sastrawi, mengungkap adanya desain besar di balik strategi militer Israel yang kian agresif. Israel dinilai sengaja memainkan ritme eskalasi bukan untuk sekadar membalas serangan, melainkan sebagai instrumen politik untuk memaksa keterlibatan militer Amerika Serikat secara penuh.

Dalam keterangannya di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Hasibullah membedah bahwa Israel saat ini sedang mempraktikkan strategi “menyeret raksasa” ke medan laga.

Keluar dari Bayang-Bayang

Israel telah meninggalkan pola lama shadow war atau perang senyap. Kini, serangan dilakukan secara terbuka dan telanjang terhadap aset strategis serta kedaulatan Iran. Hasibullah menilai transisi ini merupakan langkah berjudi yang diperhitungkan.

“Israel ingin menghancurkan kewibawaan Iran di mata sekutunya. Dengan melakukan serangan langsung, mereka memaksa Teheran keluar dari zona nyaman diplomasi dan masuk ke ring tinju militer yang terbuka,” ungkapnya.

Menciptakan “Point of No Return”

Inti dari strategi eskalasi ini adalah menciptakan titik tanpa kembali (point of no return). Israel sadar bahwa untuk melumpuhkan program nuklir dan kekuatan militer Iran secara total, mereka membutuhkan kekuatan penghancur yang hanya dimiliki oleh Pentagon.

Hasibullah mencatat beberapa poin krusial dalam manuver Israel:

  • Provokasi Terukur: Menyerang target yang sangat sensitif agar Iran “wajib” membalas secara militer.
  • Justifikasi Pertahanan: Begitu Iran merespons, Israel akan menggunakan narasi “hak membela diri” untuk menarik AS masuk ke dalam konflik dengan dalih menjaga stabilitas kawasan.
  • Sabotase Meja Runding: Eskalasi sengaja diledakkan setiap kali muncul sinyal perdamaian antara Washington dan Teheran.

Menyandera Kebijakan Luar Negeri AS

Strategi ini secara efektif menyandera kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Washington kini berada di persimpangan jalan yang mustahil: membiarkan Israel berjuang sendiri yang berarti mengancam eksistensi sekutu terdekatnya, atau ikut terjun ke dalam perang regional yang berisiko memicu krisis energi dan ekonomi global.

“Israel tidak sedang bermain defensif. Mereka sedang mendikte jalannya sejarah di Timur Tengah dengan memaksa AS menjadi pemukul utama dalam agenda keamanan mereka,” tegas analisis tersebut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top