Sutarno Bintoro
Belakangan ini, ruang publik kita kembali riuh oleh kabar Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), serta penahanan Kepala Badan Gizi Nasional beserta dua wakilnya. Rentetan berita ini bukan sekadar angka atau deretan jabatan yang tersandung hukum. Ini adalah alarm keras bagi kita semua: betapa rapuhnya sebuah amanah jika tidak dibentengi oleh hati yang lurus.
Di tengah riuhnya kegaduhan tersebut, ingatan saya mendadak terbang kepada sosok legendaris, Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Ada satu fragmen kisah yang selalu menyentuh batin tentang bagaimana beliau menjaga integritas, justru dimulai dari meja makan rumahnya sendiri. Saat pertama kali menjabat sebagai Kepala Direktorat Imigrasi, tindakan pertama yang beliau lakukan adalah meminta sang istri tercinta, Ibu Merry, untuk menutup toko bunga miliknya.
Mari bayangkan suasana batin Ibu Merry kala itu. Tentu ada rasa berat, mungkin juga ganjalan sedih, karena harus merelakan usaha yang dirintis dengan keringat sendiri demi kehormatan tugas sang suami. Namun, Ibu Merry memilih tunduk pada prinsip. Beliau paham betul bahwa jabatan bukanlah alat memupuk kekayaan, melainkan ladang pengabdian yang harus steril dari segala bentuk konflik kepentingan.
Ibu Merry, sosok teladan yang baru saja berpulang pada 3 Februari 2026 lalu, telah meninggalkan warisan yang jauh lebih abadi ketimbang materi: sebuah nama baik yang tak bernoda.
Sahabat, mari sejenak kita berkaca. Apakah posisi atau jabatan yang kita genggam saat ini sudah kita syukuri dengan jalan kejujuran? Kekuasaan hanyalah titipan yang fana, dan setiap jengkalnya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga amanah, sekecil apa pun itu, sebagaimana keluarga Pak Hoegeng telah meneladankannya kepada bangsa ini.
Salam Hormat,
#BerbagiAntikorupsi #TeladanHoegeng #MenjagaAmanah #ElingLanWaspodo



