JAKARTA – Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, melontarkan kritik pedas terhadap sikap Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terkait serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Faisal menilai kebijakan luar negeri Indonesia saat ini penuh dengan “blunder” diplomatik yang mencederai amanat konstitusi.
Rangkaian Kesalahan Sejak Awal
Dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Faisal membedah apa yang ia sebut sebagai kesalahan fundamental Prabowo sejak menjabat. Salah satu poin paling krusial adalah pidato Prabowo di Sidang Majelis Umum PBB pada September 2025.
“Kesalahan pertama adalah ketika Presiden mengucapkan pernyataan kontroversial mengenai pentingnya menjamin keamanan dan keselamatan Israel. Ini sangat menyakitkan bagi bangsa Palestina dan Iran, terutama di saat genosida di Gaza masih membekas,” tegas Faisal.
Ia menambahkan, sebagai pemimpin dari bangsa yang pernah dijajah, menunjukkan simpati terhadap penjajah adalah langkah yang keliru secara moral dan politik.
Terjebak dalam “Dewan Perdamaian” Trump
Blunder kedua yang disoroti Faisal adalah keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian (BOP) yang diinisiasi oleh Donald Trump. Lembaga ini dikritik karena di dalamnya terdapat Israel, negara yang telah ditetapkan melakukan genosida oleh Mahkamah Internasional (ICJ).
“Sangat naif jika kita percaya pada lembaga perdamaian yang dipimpin oleh orang yang tidak menghormati hukum internasional (Trump) dan beranggotakan penjahat perang (Netanyahu). Indonesia seolah-olah menjadi ‘boneka’ kepentingan Amerika di kawasan tersebut,” ujar Faisal dengan nada tinggi.
Sikap Gamang atas Gugurnya Pemimpin Iran
Faisal juga menyayangkan ketiadaan respons resmi dari Istana terkait gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Hingga saat ini, pemerintah belum menyampaikan ucapan bela sungkawa resmi maupun kecaman terhadap agresi militer tersebut.
“Kita punya hubungan diplomatik tingkat Kedutaan Besar dengan Iran, artinya Iran adalah mitra penting. Namun, jangankan mengutuk serangan, mengucapkan bela sungkawa saja tidak dilakukan. Ini menunjukkan kegamangan luar biasa, apakah karena takut kepada Trump?” tanyanya retoris.
Desakan Mundur dari Aliansi Barat
Sebagai langkah perbaikan, Faisal mendesak Presiden Prabowo untuk segera mengambil tiga tindakan nyata:
- Mengutuk keras agresi militer AS-Israel yang melanggar hukum internasional.
- Keluar dari Dewan Perdamaian bentukan Trump karena terbukti tidak membawa perdamaian, melainkan memicu perang.
- Menunjukkan solidaritas nyata kepada Iran sebagai sesama negara berdaulat dan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
“Indonesia harus kembali ke khitah politik luar negeri bebas aktif. Jangan sampai ambisi menjadi mediator justru membuat kita kehilangan integritas di mata dunia Islam,” pungkas Faisal.




kacau nih pak owo