JAKARTA – Label negara adidaya yang disandang Amerika Serikat kini mendapat sorotan tajam. Pakar Hubungan Internasional, Pitan Daslani, menyebut manuver militer Negeri Paman Sam di perairan internasional belakangan ini telah bergeser menjadi aksi “Bajak Laut Modern.”
Istilah keras ini muncul bukan tanpa alasan. Berikut adalah bedah analisis Pitan Daslani mengenai pola operasi Amerika Serikat yang dinilai telah melangkahi norma hukum laut internasional:
Aksi Penyamunan di Laut Lepas
Pitan menyoroti tindakan Angkatan Laut AS yang melakukan penyitaan paksa terhadap kapal-kapal kargo dan tangki minyak milik Iran di luar zona konflik resmi. Ia mencontohkan penyitaan kapal tangki Tifani di Laut Bengal dan penembakan kapal kargo Toska yang sedang menempuh perjalanan dari Tiongkok menuju Bandar Abbas.
“Ketika kapal dagang dicegat, ditembak lambungnya, lalu muatannya disita dan diklaim sebagai ‘hadiah’ oleh Presiden Trump, itu bukan lagi operasi militer. Itu adalah perilaku bajak laut,” tegas Pitan. Ia menambahkan bahwa tindakan ini terjadi justru di tengah masa gencatan senjata, yang semakin memperburuk citra diplomasi Amerika.
Dalih Hukum yang Lemah
Amerika sering kali berdalih bahwa penyitaan tersebut adalah bagian dari penegakan sanksi ekonomi. Namun, Pitan membedah bahwa secara hukum internasional, sanksi sepihak (unilateral sanctions) tidak memberikan hak kepada satu negara untuk merampas aset negara lain di perairan internasional tanpa mandat PBB.
Bagi Teheran, tindakan ini dipandang sebagai tindakan kriminal murni. Ketua Parlemen Iran bahkan secara eksplisit menyebut militer AS sebagai organisasi bajak laut yang mengancam keselamatan navigasi perdagangan dunia.
Strategi Frustrasi: Menghindari Rudal, Menangkap Kargo
Menurut Pitan, perubahan taktik Amerika menjadi “bajak laut” ini adalah cermin dari rasa frustrasi. Amerika menyadari bahwa melakukan serangan darat atau udara langsung ke daratan Iran terlalu berisiko tinggi karena sistem pertahanan Iran yang sangat rapat.
“Karena takut menghadapi rudal-rudal Iran di Selat Hormuz, Amerika memilih bermain ‘aman’ dengan mencegat kapal-kapal dagang Iran di wilayah yang jauh, seperti Samudra Hindia atau Laut Bengal,” ungkapnya. Ini adalah upaya Amerika untuk tetap terlihat menekan Iran di mata publik domestik mereka, meski secara strategis mereka sedang kehilangan kendali di lapangan.
Dampak Terhadap Stabilitas Dunia
Aksi “bajak laut modern” ini diprediksi akan menjadi bumerang bagi Amerika. Pitan memperingatkan bahwa jika pola ini terus berlanjut, perdagangan global akan terancam. Negara-negara besar lain seperti Tiongkok dan Rusia tidak akan tinggal diam melihat kapal-kapal yang mengangkut komoditas mereka disabotase di tengah jalan.
Dunia kini menyaksikan keruntuhan wibawa sebuah negara super power. Amerika yang dulunya mengklaim sebagai polisi dunia, kini di mata banyak pengamat hubungan internasional, justru bertransformasi menjadi pengacau keamanan maritim demi menutupi kebuntuan strategi perang mereka terhadap Iran.



