JAKARTA – Pakar hubungan internasional, Pitan Daslani, mengungkap rahasia di balik ketangguhan Iran menghadapi gempuran negara adidaya. Menurutnya, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, Iran tidak sekadar mengandalkan jumlah personel atau kecanggihan senjata, melainkan sebuah doktrin pertahanan unik yang disebutnya sebagai perpaduan antara kecerdasan organisasi dan fanatisme budaya.
Doktrin Mosaic Defense: Struktur Tanpa Kepala
Pitan menjelaskan bahwa kekuatan militer Iran terletak pada sistem “Mosaic Defense” (Pertahanan Mosaik). Berbeda dengan militer konvensional yang memiliki komando terpusat, Iran membagi kekuatan militernya ke dalam unit-unit kecil yang otonom di setiap wilayah.
“Pentagon sempat mengklaim telah menghancurkan ‘kepala ular’ saat menyerang pimpinan tertinggi Iran. Namun mereka lupa, Iran menggunakan mosaic defense. Di sini, komando terdesentralisasi,” ujar Pitan. Artinya, jika pusat komando di Teheran lumpuh, setiap unit di daerah (seperti Kodam di Indonesia) memiliki wewenang penuh untuk mengambil keputusan dan melakukan serangan balik secara mandiri. Strategi ini membuat militer Iran mustahil untuk dilumpuhkan hanya dengan satu kali serangan besar.
Cultural Defense: Senjata yang Tak Bisa Dibom
Salah satu aspek yang sering luput dari kalkulasi intelijen Barat adalah “Cultural Defense” atau Ketahanan Budaya. Pitan menekankan bahwa Iran adalah negara para Mullah (ulama), di mana suara pemimpin tertinggi dianggap sebagai fatwa suci.
“Kepatuhan rakyat Iran terhadap pemimpin mereka adalah bentuk pertahanan budaya. Mereka tidak takut mati demi negara karena menganggapnya sebagai kewajiban spiritual,” tegas Pitan. Fanatisme ini menciptakan daya tahan mental yang luar biasa, sehingga gertakan militer Amerika tidak memicu kepanikan massal, melainkan justru memperkuat persatuan rakyat di bawah bendera pemerintah.
Strategi Maritim: Predator di Selat Hormuz
Dalam konteks ketegangan di Selat Hormuz, Pitan menyoroti kecerdikan Iran dalam mengatur tempo peperangan. Iran sadar bahwa mereka adalah “pelari maraton” sementara Amerika adalah “sprinter” yang mudah kehabisan napas.
Iran tidak menantang Amerika di laut terbuka secara frontal, melainkan menggunakan taktik “gerilya laut” dengan kapal-kapal cepat dan ranjau yang sangat efektif di perairan sempit. “Saat ini, Irama perang justru diatur oleh Iran. Mereka tahu kapan harus menutup jalur dan kapan harus membiarkan tekanan ekonomi menghantam Amerika dari dalam,” tambahnya.
Visi Jarak Jauh: Antisipasi Sanksi
Pitan mencatat bahwa ketangguhan Iran saat ini adalah hasil dari persiapan puluhan tahun. Sejak revolusi 1979, Iran sudah memprediksi bahwa mereka akan dikepung sanksi. Hal ini memaksa mereka membangun industri pertahanan mandiri, mulai dari teknologi centifuge untuk nuklir hingga produksi rudal balistik yang dikembangkan dari hasil modifikasi teknologi Tiongkok dan Pakistan.
Menurut analisis Pitan Daslani, kegagalan Amerika menaklukkan Iran bukan karena kurangnya peluru, melainkan karena mereka menghadapi “tembok” yang tidak bisa dihancurkan oleh rudal: sebuah sistem pertahanan yang terdesentralisasi secara fisik dan menyatu secara ideologis.



