JAKARTA – Pakar hubungan internasional dan wartawan senior, Pitan Daslani, membedah akar ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali membara di Selat Hormuz. Dalam analisisnya, seperti dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, Pitan menegaskan bahwa apa yang terjadi hari ini bukanlah konflik yang berdiri sendiri, melainkan kelanjutan dari luka sejarah panjang akibat campur tangan intelijen asing di Teheran.
Dosa Warisan 1953: Operasi Ajax
Pitan mengingatkan bahwa memori kolektif rakyat Iran terhadap Amerika Serikat berakar pada peristiwa 15 Agustus 1953. Saat itu, CIA (Amerika) berkolaborasi dengan MI6 (Inggris) untuk menggulingkan Perdana Menteri Iran yang sah, Mohammad Mosaddegh.
“Dosa” Mosaddegh di mata Barat hanya satu: ia berani menasionalisasi perusahaan minyak Iran yang selama ini dikeruk Inggris. Akibatnya, CIA melancarkan operasi bawah tanah untuk menjatuhkan Mosaddegh dan mengembalikan kekuasaan absolut kepada Syah Reza Pahlevi yang pro-Barat.
“Iran belajar dengan cara yang sangat mahal bahwa ketika kerusuhan terjadi, intelijen asing pasti masuk untuk mengacak-acak negara mereka,” ujar Pitan.
Pola Sabotase yang Berulang
Pitan melihat adanya pola yang identik antara peristiwa 1953 dengan dinamika konflik saat ini. Ia menyoroti bagaimana demonstrasi di dalam negeri Iran sering kali disusupi oleh agenda asing untuk memicu regime change (pergantian rezim).
- Manipulasi Demonstrasi:
Pitan mencontohkan kejanggalan dalam berbagai kerusuhan di Iran, seperti pembakaran ratusan masjid—sesuatu yang dianggap mustahil dilakukan oleh rakyat Iran yang religius tanpa adanya provokasi pihak luar.
- Target Operasi:
Sebagaimana CIA membayar demonstran pada 1953, Pitan menduga pola penyusupan serupa masih dilakukan oleh CIA dan Mossad saat ini untuk melemahkan posisi pemerintah Iran dari dalam.
Kaitan dengan Blokade Selat Hormuz
Dalam konteks kekinian, Pitan menilai blokade Amerika di luar Selat Hormuz—termasuk penembakan kapal kargo dan penyitaan kapal tangki minyak Iran—adalah bentuk “bajak laut modern” yang tujuannya tetap sama dengan tahun 1953: Lumpuhkan ekonomi Iran.
Namun, Pitan mencatat satu perbedaan besar: Iran hari ini bukan Iran tahun 1953. “Iran sekarang sudah menyiapkan sistem pertahanan Mosaic Defense dan ketahanan budaya yang sangat kuat. Mereka sudah membaca jarak jauh bahwa setelah sanksi ekonomi, pasti akan ada serangan fisik, sehingga mereka sudah siap bertempur dalam jangka panjang,” tegasnya.
Menurut Pitan, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump sedang terjebak dalam delusi masa lalu. Dengan mengabaikan sejarah dan hanya mengandalkan gertakan militer serta gencatan senjata sepihak, Amerika justru terlihat sedang mencari “exit strategy” atau jalan keluar terhormat dari kebuntuan yang mereka ciptakan sendiri.
Bagi Pitan, selama Amerika tidak mengubah cara pandangnya terhadap kedaulatan Iran dan terus menggunakan metode intervensi gaya lama, maka Selat Hormuz akan tetap menjadi titik api yang siap meledakkan stabilitas global kapan saja.
sumber ulasan :



