Yanuar : Prabowo Terapkan Strategi ‘Ekonomi Prasmanan’

whatsapp image 2026 01 29 at 14.49.50 (1)

JAKARTA – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai tengah menerapkan strategi “Ekonomi Prasmanan” dalam menjalankan roda kebijakannya. Strategi ini terlihat dari upaya masif pemerintah untuk merangkul dan menyenangkan semua lapisan—mulai dari elit politik, penguasa desa, hingga kelas menengah—demi menjaga stabilitas nasional.

Namun, di balik harmoni politik yang tampak tenang di permukaan, para ekonom memperingatkan adanya risiko besar pada ketahanan fiskal jangka panjang Indonesia.

Akomodasi Elit Lewat Program Strategis

Ekonom senior Yanuar Rizky, dalam diskusi terbaru di kanal YouTube Speak Up bersama Abraham Samad, menyebut bahwa program-program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan instrumen stabilitas politik.

“Ini seperti meja prasmanan. Semua elit politik mendapatkan ‘porsi’ masing-masing agar tidak ada yang menjadi oposisi mendadak,” ujar Yanuar. Ia menyoroti bagaimana anggaran negara dialokasikan untuk memastikan elit nasional hingga elit di tingkat desa merasa terakomodasi dalam sirkulasi ekonomi baru ini.

Menahan Gejolak di Kelas Menengah

Strategi “menyenangkan semua orang” ini juga menyasar masyarakat luas. Di saat ruang fiskal menyempit, pemerintah tetap bersikeras menahan harga BBM dan memberikan berbagai subsidi. Langkah ini diambil untuk mencegah “amuk massa” atau gejolak sosial, terutama dari kelas menengah yang daya belinya terus merosot.

Presiden Prabowo tampaknya sangat menyadari risiko politik jika harga kebutuhan pokok melonjak. Dengan tetap mengalirkan subsidi, pemerintah berhasil menjaga “psikologi pasar” agar tetap tenang, meskipun secara fundamental, anggaran negara harus menanggung beban yang kian berat.

Harga Mahal Sebuah Stabilitas

Namun, strategi akomodatif ini bukannya tanpa biaya. Pengamat menekankan tiga risiko utama yang kini membayangi Indonesia:

  1. Defisit yang Melebar: Pemerintah secara terbuka mengakui adanya pelebaran defisit anggaran. Artinya, pengeluaran untuk “menyenangkan semua pihak” ini tidak ditutup oleh pendapatan pajak, melainkan oleh pembiayaan baru.
  2. Ketergantungan Utang: Stabilitas ini sangat bergantung pada kemauan pasar global untuk terus membeli surat utang Indonesia. Jika kepercayaan investor goyah, “meja prasmanan” ini terancam bubar.
  3. Keseimbangan yang Rapuh: Dalam ilmu kebijakan publik, upaya menyenangkan semua orang sering kali berujung pada tidak tuntasnya masalah fundamental. Alokasi sumber daya menjadi tidak efisien karena tersebar merata demi kepentingan politik, bukan pada sektor produktif yang mendesak.

Vonis Pasar: Menunggu Titik Jenuh

Hingga saat ini, Indonesia memang masih memiliki rekam jejak yang baik dalam membayar utang. Namun, dengan outlook negatif yang mulai membayangi, pemerintah diingatkan untuk tidak terlena dalam ilusi stabilitas.

“Pertanyaannya bukan lagi kapan krisis datang, tapi sampai kapan kita bisa terus membiayai stabilitas politik ini dengan utang sebelum pasar mengatakan ‘cukup’,” pungkas Yanuar dalam diskusi tersebut.

Kini, bola panas berada di tangan tim ekonomi pemerintah: mampukah mereka mengubah strategi prasmanan yang konsumtif ini menjadi pertumbuhan ekonomi yang produktif sebelum ruang fiskal benar-benar

12 komentar untuk “Yanuar : Prabowo Terapkan Strategi ‘Ekonomi Prasmanan’”

Tinggalkan Balasan ke Reabilitaciya alkogolikov_vfOi Batalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top