JAKARTA — Pakar Hubungan Internasional senior dari Universitas Indonesia (UI), Dra. Suzie Sri Suparin S. Sudarman, M.A., memperingatkan bahwa eskalasi militer terbaru yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel telah memasuki fase konfrontasi yang sangat berisiko bagi stabilitas global.
Menurut Suzie, seperti di kutip di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih membawa perubahan signifikan dalam pendekatan luar negeri Washington, yang kini dinilai lebih agresif dan menutup ruang-ruang diplomasi yang sebelumnya diupayakan.
“Kebijakan luar negeri AS di bawah administrasi Trump saat ini cenderung menerapkan strategi brinkmanship—yaitu mendorong situasi konflik hingga ke ambang batas paling berbahaya untuk memaksa lawan tunduk,” ujar Suzie Sudarman
Suzie menjelaskan bahwa doktrin Maximum Pressure (tekanan maksimum) yang kembali dihidupkan oleh Trump tidak hanya menyasar pada sanksi ekonomi, melainkan sudah bergeser ke arah dukungan terbuka terhadap operasi militer Israel dan upaya penggulingan rezim (regime change) di Teheran. Langkah ini, menurutnya, dinilai oleh banyak analis internasional sebagai tindakan yang tidak proporsional dan mengabaikan kedaulatan hukum internasional.
Bahaya Polarisasi di Indonesia
Merespons meluasnya sentimen anti-Zionisme dan sentimen pro-Barat di dalam negeri, Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika (AS Center) UI ini juga memberikan peringatan keras agar masyarakat Indonesia tidak mengimpor konflik Timur Tengah ke dalam ranah sosial domestik.
“Sangat berbahaya jika kita membawa narasi Zionisme maupun sentimen geopolitik luar negeri secara serampangan ke ruang publik Indonesia. Ada risiko besar terjadinya polarisasi ideologis yang keliru, seperti membenturkan sentimen keagamaan atau mazhab yang sebenarnya tidak relevan dengan esensi konflik geopolitik yang sedang terjadi di Timur Tengah,” jelas Suzie.
Ia menambahkan, jika masyarakat terjebak dalam fanatisme buta atau kebencian horizontal di dalam negeri, hal tersebut justru dapat dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk memicu instabilitas keamanan nasional.
Dampak Ekonomi Nyata
Lebih lanjut, mantan peneliti senior ini juga menggarisbawahi bahwa dampak dari perang ini bukan lagi sekadar isu politik jarak jauh bagi Indonesia. Jika ketegangan militer terus meningkat hingga mengganggu jalur perdagangan vital di Selat Hormuz, Indonesia akan langsung menghadapi konsekuensi ekonomi yang serius.
“Sumbatan pada jalur logistik minyak global di Selat Hormuz akan memicu lonjakan harga energi dunia. Bagi Indonesia, ini berarti tekanan besar pada APBN akibat pembengkakan subsidi BBM, yang diikuti oleh pelemahan nilai tukar Rupiah dan inflasi barang-barang pokok,” paparnya.
Di akhir analisisnya, Suzie menekankan agar Pemerintah Indonesia tetap teguh pada prinsip politik luar negeri yang Bebas dan Aktif. Indonesia harus terus menyuarakan kemerdekaan Palestina dan penolakan terhadap agresi militer melalui jalur formal seperti PBB dan OKI, sekaligus memastikan bahwa persatuan domestik tetap terjaga dari provokasi isu luar negeri.



