Pengamat: Konflik Selat Hormuz Picu Reorientasi Geopolitik dan Ancaman Inflasi Energi Global

whatsapp image 2026 03 30 at 09.49.18 (3)

JAKARTA – Eskalasi militer antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz serta Perairan Oman dinilai bukan sekadar konflik regional, melainkan titik balik bagi peta kekuatan dunia. Pengamat Timur Tengah yang juga Peneliti Asian Middle East Center, Pizaro Gozali, memperingatkan bahwa kebuntuan militer ini akan membawa dampak ganda yang melumpuhkan stabilitas ekonomi global sekaligus merombak aliansi internasional.

Senjata Ekonomi: Blokade dan Pasokan Energi

Dikutip  dari kanal Abraham Samad Speak Up, Pizaro menekankan bahwa ancaman Iran di Selat Hormuz adalah instrumen tekanan ekonomi yang paling efektif terhadap Barat. Mengingat hampir sepertiga pasokan gas alam cair dan seperlima konsumsi minyak dunia melintasi jalur ini, gangguan sekecil apa pun berpotensi memicu lonjakan harga komoditas secara permanen.

“Iran menyadari betul bahwa kartu as mereka ada pada geografi. Dengan menekan Selat Hormuz, mereka tidak hanya melawan AS secara militer, tetapi juga menghantam jantung ekonomi negara-negara industri,” ujar Pizaro. Ia memprediksi inflasi energi global akan menjadi konsekuensi tak terelakkan jika blokade terus berlanjut.

Pergeseran Geopolitik: Memudarnya Dominasi AS

Secara geopolitik, Pizaro menyoroti bahwa konfrontasi langsung ini menunjukkan kegagalan strategi pencegahan (deterrence) Amerika Serikat di Timur Tengah. Fakta bahwa Iran berani melakukan serangan balik di wilayah perairan internasional menandakan bahwa kekuatan AS tidak lagi dipandang absolut oleh aktor regional.

Beberapa poin krusial yang digarisbawahi adalah:

  • Multipolaritas Kawasan: Konflik ini memaksa negara-negara di luar kawasan, seperti China dan Rusia, untuk mengambil peran lebih aktif guna mengamankan jalur perdagangan mereka, yang secara bertahap menggerus pengaruh tunggal AS.
  • Ujian bagi Poros Arab: Pizaro melihat negara-negara Arab kini berada dalam dilema strategis—antara mempertahankan kerjasama keamanan dengan AS atau mengakomodasi realitas kekuatan militer Iran yang kian dominan demi menghindari kehancuran ekonomi domestik mereka.

Kesiapan Perang Berlarut

Pizaro juga memberikan catatan penting mengenai ketahanan militer Iran. Klaim bahwa cadangan rudal Teheran masih tersisa 70% menunjukkan bahwa Iran telah mempersiapkan skenario perang jangka panjang. Hal ini, menurutnya, akan membuat biaya politik dan militer yang harus dibayar AS menjadi sangat mahal.

“Dunia harus bersiap menghadapi tatanan baru di mana supremasi di perairan Teluk tidak lagi dipegang oleh satu pihak. Dampak ekonomi dari ketegangan ini akan memaksa dunia internasional untuk mencari alternatif jalur energi atau melakukan renegosiasi besar-besaran dengan Iran,” tutup Pizaro dalam analisisnya.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di Selat Hormuz masih berada dalam status siaga tinggi dengan aktivitas pelayaran komersial yang menurun drastis hingga 80%.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top