Ritual Jokowi “Injak Kepala Kerbau”: Antara Penghormatan Adat dan Tafsir Politik yang Memanas

jokowi injak kepala kerbau 1782711073640 169

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menginjak kepala kerbau saat prosesi adat di Lampung, Minggu (28/6/2026). (Dok. detik. com/ Bestari Barus/PSI)

JAKARTA — Langkah kaki politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), pasca-purnatugas kembali memicu riuh di panggung nasional. Kali ini, sebuah momen dalam rangkaian safari politiknya di Provinsi Lampung mendadak viral dan memicu perdebatan sengit antara dua kubu yang berseberangan: PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Pemicunya adalah potongan video dan foto yang beredar luas di media sosial sejak Senin (29/6/2026). Dalam rekaman tersebut, Jokowi  tampak menjalani prosesi adat Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi di Kedaton Keagungan Lampung. Salah satu prosesi sakral yang dijalani adalah menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah—sebuah ritual adat kuno sebagai bagian dari penganugerahan gelar kehormatan “Baginda Pemuka Bangsa”.

Namun, di tengah panasnya sisa-sisa dinamika politik nasional, publik di media sosial justru mengaitkan ritual tersebut sebagai simbolisasi politik yang menyindir PDIP—partai yang membesarkan Jokowi namun kini hubungannya merenggang.

PDIP: “Maaf, Lambang Kami Banteng Moncong Putih, Bukan Kerbau”

Merespons keliaran tafsir publik yang mengaitkan ritual injak kepala kerbau tersebut sebagai upaya merendahkan partainya, elite PDIP justru menanggapi dengan santai dan tawa.

Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira seperti dikutip di detik.com menegaskan bahwa partainya sama sekali tidak merasa tersindir ataupun terhina. Ia mengingatkan publik untuk membedakan dua entitas hewan tersebut secara gamblang.

“Tapi kalau seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh yang menginjak, mau dimaknai sebagai simbolisasi menghina PDI Perjuangan, ha-ha-ha. Maaf, lambang PDI Perjuangan bukan kepala kerbau. Lambang PDI Perjuangan itu banteng moncong putih,” ujar Andreas dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).

Meski tertawa soal urusan kerbau, Andreas tidak menahan diri untuk melayangkan kritik tajam terhadap esensi safari politik Jokowi. Ia menyentil posisi Jokowi sebagai mantan kepala negara yang dianggapnya justru mengalami penurunan skala politik karena masih sibuk bermanuver di tingkat lokal demi mendongkrak partai tertentu.

“Harus naik kelas dong, kelasnya harus beda dong. Masa sih, mantan presiden mainannya masih lokal-lokalan, masih mau cari dukungan suarakah?” sindir Andreas.

Nada kritik serupa juga disuarakan oleh politikus PDIP lainnya, Guntur Romli. Ia menilai bahwa visualisasi tersebut justru memperlihatkan bagaimana para pengikut Jokowi dan PSI terbuai oleh perilaku komparasi ala ‘raja-raja lama’, di tengah apa yang disebutnya sebagai ambisi politik keluarga.

PSI Pasang Badan

Mendengar serangan balik dari banteng, PSI langsung tancap gas memasang badan membela Jokowi. Partai yang kini dipimpin oleh anak bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, balik menuding PDIP telah merendahkan nilai-nilai luhur kebudayaan daerah.

Ketua DPP PSI, Bestari Barus, menegaskan bahwa ritual tersebut murni merupakan keputusan masyarakat adat Lampung untuk menghormati kontribusi Jokowi selama memimpin Indonesia, bukan sebuah skenario politis yang sengaja dibuat-buat oleh Jokowi atau PSI.  Ia bahkan menyebut bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, beberapa presiden terdahulu pun pernah menjalani prosesi serupa saat dianugerahi gelar adat di Lampung.

Bestari pun menyindir balik sikap politik PDIP di tingkat nasional yang dinilainya tidak konsisten dalam menentukan posisi pasca-pemerintahan baru.

“Kalau enggak suka ya sudah hindarin saja. Kalau kemudian luka, kecewa, dan merasa terdegradasi karena ditinggalkan Pak Jokowi, ya berbenah dululah diri. Ini ngaku kadang-kadang oposisi, kadang-kadang tidak oposisi. Orang enggak jelas jenis kelaminnya (posisi politiknya) mau gimana sih,” sentil Bestari.

Ketika Adat Menjadi Amunisi Politik ?

Perseteruan prosesi adat di Lampung dengan pemberian gelar kepada Jokowi mantan Presiden RI ke -7 memperlihatkan bagaimana ruang publik kita hari ini begitu rentan terhadap polarisasi.

Bagi masyarakat adat Lampung, Begawi dan prosesi yang melibatkan kerbau—hewan yang disakralkan dalam budaya agraris dan adat Pepadun—adalah simbol keluhuran, pengorbanan, dan penyatuan komunal (piil pesenggiri). Kerbau dalam adat Sumatera bagian selatan sering kali melambangkan kemakmuran dan status adat yang tinggi.

Namun, perlu disadari pula di balik rangkaian prosesi adat tersebut, agenda Jokowi adalah safari politik bersama dengan PSI. Bahkan Jokowi dengan terbuka menggunakan atribut PSI datang di basis wilayah yang kerap dijuluki “Tanah Gajah” yang juga secara kebetulan logo PSI adalah gajah.  Sehingga tafsir liar publik tidak bisa dihindarkan.  

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top