JAKARTA — Keretakan terselubung di lingkar elit kekuasaan mulai terendus ke publik. Presiden Prabowo Subianto diprediksi kuat tidak akan lagi menggandeng Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Pemilu 2029 mendatang. Menyadari posisi sang anak berada di ujung tanduk, Joko Widodo (Jokowi) memilih “turun gunung” melakukan safari politik agresif guna mengamankan sekoci politik keluarganya.
Analisis tajam ini dibongkar oleh Pengamat Komunikasi Politik dan Militer dari Universitas Nasional (Unas), Dr. Slamet Ginting, dalam sebuah diskusi mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP yang disiarkan akhir Juni 2026.
Slamet Ginting menilai, secara kalkulasi politik, sangat kecil kemungkinan bagi Prabowo untuk memberikan kembali “karpet merah” kepada Gibran pada periode kedua nanti. Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo diyakini lebih memilih figur yang tidak memiliki ambisi politik besar pada Pemilu 2034, atau tokoh yang sepenuhnya berada di bawah kendali lingkar internal Gerindra.
“Hitungan politik saya, [Prabowo] tidak akan mengambil Gibran [di 2029]. Polanya hampir sama dengan Jokowi [saat menjabat], mencari orang yang tidak punya ambisi di pemilu berikutnya untuk menjadi wakil presiden,” ujar Slamet Ginting.
Slamet menambahkan bahwa jika Prabowo mengambil tokoh dari partai besar lain, hal itu sama saja dengan membesarkan lawan politik Gerindra untuk pemilu pasca-Prabowo. Atas dasar kalkulasi taktis inilah, posisi Gibran dinilai sangat rawan didepak dari bursa kepemimpinan nasional di periode mendatang.
Siasat Jokowi: Menyiapkan Perlawanan Terbuka
Ancaman tersingkirnya sang anak dari lingkaran utama Istana inilah yang disinyalir menjadi pemantik utama mengapa Jokowi belakangan ini gencar berkeliling daerah memimpin safari politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Jurnalisme senior membaca langkah mantan presiden ini sebagai bentuk ketidakpercayaannya terhadap komitmen politik jangka panjang, sekaligus persiapan untuk skenario terburuk: berhadapan langsung dengan kubu Prabowo di Pemilu 2029.
“Bahwa safari politik Jokowi ini pasti juga terkait dengan Gibran. Gibran yang sekarang menjadi wapres itu ada di kepala Jokowi bagaimana anaknya ini tetap berada di kancah elit nasional,” kata Slamet. “Apabila Gibran tidak disorongkan lagi menjadi wapres oleh Prabowo, maka otomatis dia harus berhadapan dengan Prabowo di 2029. Dia mau dorong anaknya maju.”
Melalui safari politik yang dilakukan secara dini ini, Jokowi dinilai sedang mengirimkan sinyal politik makro (political signaling) kepada Istana dan partai-partai koalisi bahwa dirinya masih memiliki jaringan birokrasi, kepala daerah, serta relawan yang setia di akar rumput.
Namun, tantangan terbesar bagi dinasti Jokowi saat ini adalah memudarnya daya magis sang mantan presiden di lapangan. Pengamat mencatat, pengumpulan massa yang terjadi dalam beberapa kunjungan Jokowi belakangan ini tidak lagi bersifat sukarela atau organik, melainkan hasil dari mobilisasi struktural yang digerakkan oleh logistik.
Pertarungan perebutan pengaruh ini diprediksi akan semakin panas dan kejam menjelang evaluasi serta konsolidasi elit di pertengahan masa jabatan pemerintahan saat ini. Ketika komitmen politik mulai goyah, safari politik Jokowi menjadi penanda awal bahwa genderang perang menuju Pemilu 2029 telah resmi ditabuh lebih awal.



