Selamat Ginting : Jokowi Bukan Negarawan. Turun Gunung Demi Jaga Dinasti

whatsapp image 2026 02 11 at 10.23.44 (2)

JAKARTA — Manuver politik pasca-jabatan Joko Widodo (Jokowi) kian memantik sorotan tajam. Alih-alih menarik diri dari hiruk-pikuk politik praktis dan mengambil peran sebagai negarawan, mantan presiden ini justru dinilai sengaja turun gunung demi menjaga pengaruh politiknya sekaligus mengamankan masa depan sang anak, Gibran Rakabuming Raka, menuju Pemilu 2029.

Tudingan ini dilemparkan secara lugas oleh Pengamat Komunikasi Politik dan Militer dari Universitas Nasional (Unas), Dr. Selamat Ginting, dalam sebuah wawancara mendalam di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP yang disiarkan pada akhir Juni 2026.

Selamat Ginting menilai, safari politik intensif yang dilakukan Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) belakangan ini—termasuk kunjungannya ke Provinsi Lampung—menjadi bukti kuat bahwa sang mantan presiden menolak untuk “pensiun” dari panggung kekuasaan.

“Tidak semua mantan kepala negara atau kepala pemerintahan itu memilih menjadi begawan… Jokowi orang yang tidak memilih menjadi begawan, artinya belum selesai urusan politiknya. Ambisi-ambisi politiknya masih sangat tinggi. Dia bukan negarawan,” ujar Selamat Ginting secara blak-blakan.

Menurut analisis jurnalisme senior, istilah begawan merujuk pada sosok mantan pemimpin yang telah selesai dengan urusan duniawi kekuasaan, menempatkan dirinya di atas semua golongan, dan fokus menjadi kompas moral bangsa. Pilihan Jokowi untuk aktif mengampanyekan PSI, memakai jaket partai, hingga melakukan manuver di daerah dinilai sebagai anomali etika dalam tradisi politik pasca-kepresidenan di Indonesia.

Selamat Ginting mengungkapkan bahwa keaktifan Jokowi ini tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi dinasti politik keluarganya. Di kepala Jokowi saat ini, ada kekhawatiran besar mengenai posisi Gibran yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden, terutama terkait kepastian apakah sang anak akan kembali digandeng oleh Prabowo Subianto pada Pemilu 2029 atau justru didepak demi kepentingan internal Partai Gerindra.

“Bacaan politik saya, ini upaya mempertahankan modal sosial politik yang selama ini ada pada dirinya. Dia sedang berpikir apabila Gibran tidak disorongkan lagi menjadi wapres oleh Prabowo, maka otomatis dia harus berhadapan dengan Prabowo di 2029,” tambah Slamet.

Namun, jurnalisme lapangan mencatat kontras yang mencolok dalam safari politik Jokowi kali ini. Berbeda dengan masa jayanya dulu, antusiasme warga kini dilaporkan merosot tajam. Alih-alih disambut dengan histeria massa yang organik, pengamat melihat pergerakan massa di lapangan saat ini lebih condong pada pengondisian logistik.

“Bagi saya, Jokowi yang sekarang, orang datang itu menggunakan mobilisasi politik, bukan partisipasi politik… Jadi ada money di situ,” pungkas Selamat Ginting.

Langkah agresif Jokowi pasca-lengser ini diprediksi akan mempercepat polarisasi dan ketegangan antar-elit di lingkar kekuasaan jauh sebelum tahun politik 2029 dimulai. Ketika seorang mantan presiden menolak menjadi jangkar moral dan memilih tetap menjadi pemain, maka stabilitas politik domestik dipastikan akan terus bergoyang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top