Ambisi ‘Israel Raya’ dan Eskalasi Regional: Timur Tengah di Ambang Perang Total

whatsapp image 2026 04 07 at 10.12.11

JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang lebih berbahaya seiring dengan meningkatnya intensitas serangan militer Israel terhadap proksi-proksi Iran. Langkah agresif ini dinilai bukan sekadar retaliasi militer, melainkan bagian dari agenda strategis regional yang jauh lebih besar.

Target Pemusnahan Kapasitas Iran

Dalam analisisnya di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, pengamat dari Indo-Pacific Strategic Intelligence (IPSI), Aisha R. Kusumasomantri, menyoroti bahwa Israel secara konsisten menekan Amerika Serikat untuk melumpuhkan Iran secara total. Menurutnya, Israel menyadari bahwa ambisi nasional mereka tidak akan tercapai selama Iran masih memiliki kapasitas militer dan nuklir yang signifikan.

“Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial. Target utama mereka adalah menghancurkan pusat-pusat pengayaan uranium seperti di Natanz dan Isfahan agar tidak terjadi perimbangan kekuatan nuklir di kawasan,” ujar Aisha.

Front Lebanon dan Kegagalan Gencatan Senjata

Ketegangan di Lebanon Selatan menjadi bukti nyata eskalasi regional yang tak terkendali. Meskipun Amerika Serikat sempat mengklaim adanya kesepakatan gencatan senjata, di lapangan Israel terus menggempur posisi Hizbullah.

Aisha menjelaskan bahwa Israel memandang Hizbullah bukan sekadar milisi, melainkan penghalang utama bagi terwujudnya stabilitas keamanan di perbatasan utara mereka. Upaya Israel untuk merangsek masuk dan menciptakan buffer zone (zona penyangga) hingga ke Sungai Litani menunjukkan keinginan untuk mengubah peta teritorial secara sepihak.

Diplomasi Sepihak yang Semu

Munculnya fenomena “gencatan senjata sepihak” yang diklaim oleh AS tanpa keterlibatan langsung Iran dan Hizbullah dinilai sebagai diplomasi yang sangat rapuh. Strategi Israel yang memanfaatkan celah dalam negosiasi—seperti menyerang Hizbullah dengan dalih bukan menyerang pemerintah Lebanon—membuat kepercayaan diplomatik di kawasan berada pada titik terendah.

“Iran dan proksinya tidak akan percaya pada jaminan AS jika Israel terus melakukan operasi darat dan serangan udara yang menyasar infrastruktur publik serta warga sipil,” tambah Aisha.

Skenario Perang Jangka Panjang

Eskalasi ini diprediksi tidak akan mereda dalam waktu dekat. Israel tampak siap dengan perang atrisi (perang kelelahan) untuk memancing keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam konflik yang lebih luas melawan Iran.

Kini, stabilitas Timur Tengah bergantung pada sejauh mana negara-negara garantor seperti Rusia dan China mampu menahan laju eskalasi, di tengah ambisi Israel yang kian terbuka untuk mendominasi lanskap politik dan militer di kawasan tersebut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top