JAKARTA – Ketidakpastian menyelimuti akhir dari ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat di perairan Oman. Pakar intelijen memprediksi terdapat tiga skenario utama atau exit ramp yang akan menentukan apakah kawasan tersebut akan menuju perdamaian semu atau justru terjebak dalam konflik berkepanjangan.
Skenario Pertama: Gencatan Senjata dan Diplomasi “Bawah Tangan”
Dalam keterangannya di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, pengamat dari Indo-Pacific Strategic Intelligence (IPSI), Aisha R. Kusumasomantri, menjelaskan skenario pertama adalah tercapainya gencatan senjata resmi. Hal ini menuntut AS untuk menghentikan seluruh operasi blokade lautnya, diikuti dengan langkah pembangunan kepercayaan (confidence building measure) antara kedua pihak.
“Jika kedua negara mampu menghargai red line masing-masing, konsesi diplomatik bisa terjadi meski perbedaan politik fundamental mereka tetap ada,” ujar Aisha. Namun, ia menekankan bahwa komunikasi bawah tanah antara Washington dan Teheran saat ini sebenarnya masih terus berlangsung meski di permukaan tampak buntu.
Skenario Kedua: Adu Gengsi dan Ilusi Kemenangan
Skenario kedua melibatkan salah satu pihak yang mengalah. Namun, Aisha menilai kemungkinan ini sangat kecil karena masalah “harga diri” politik domestik. Baik Donald Trump maupun rezim di Teheran sama-sama membutuhkan narasi kemenangan untuk menjaga legitimasi mereka.
Kekalahan atau pengunduran diri secara cuma-cuma tanpa kompensasi politik yang besar akan dianggap sebagai kegagalan strategis bagi kedua belah pihak.
Skenario Ketiga: Status ‘Perang Mengambang’
Skenario yang paling unik dan berpeluang besar terjadi adalah munculnya perdamaian negatif atau “perang mengambang” (negative peace). Dalam model ini, secara formal kedua negara masih dalam status berperang, namun tidak ada aksi militer besar-besaran yang terjadi.
“Situasinya mungkin akan menyerupai hubungan Korea Utara dan Korea Selatan. Statusnya perang, tapi ada kondisi yang memungkinkan kedua negara tetap berfungsi dan berkembang di jalurnya masing-masing tanpa harus saling menghancurkan,” jelas Aisha.
Faktor November: Pemilu Sela AS Sebagai Penentu
Aisha juga menyoroti bahwa nasib akhir konflik ini sangat bergantung pada hasil Pemilu Sela (Midterm Election) Amerika Serikat pada November mendatang. Jika oposisi (Demokrat) berhasil menguasai parlemen, kebijakan agresif Donald Trump terhadap Iran bisa kehilangan dukungan politik dan dana, yang secara otomatis memaksa Washington untuk menarik diri dari eskalasi militer.
Kini, dunia tengah menanti skenario mana yang akan diambil. Apakah Timur Tengah akan menemukan jalan keluar yang terhormat, atau justru terjebak dalam ketegangan abadi yang menyandera stabilitas ekonomi global?
Tiga Jalan Keluar Konflik Iran-AS: Antara Gencatan Senjata atau ‘Perang Mengambang’
JAKARTA – Ketidakpastian menyelimuti akhir dari ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat di perairan Oman. Pakar intelijen memprediksi terdapat tiga skenario utama atau exit ramp yang akan menentukan apakah kawasan tersebut akan menuju perdamaian semu atau justru terjebak dalam konflik berkepanjangan.
Skenario Pertama: Gencatan Senjata dan Diplomasi “Bawah Tangan”
Dalam keterangannya di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, pengamat dari Indo-Pacific Strategic Intelligence (IPSI), Aisha R. Kusumasomantri, menjelaskan skenario pertama adalah tercapainya gencatan senjata resmi. Hal ini menuntut AS untuk menghentikan seluruh operasi blokade lautnya, diikuti dengan langkah pembangunan kepercayaan (confidence building measure) antara kedua pihak.
“Jika kedua negara mampu menghargai red line masing-masing, konsesi diplomatik bisa terjadi meski perbedaan politik fundamental mereka tetap ada,” ujar Aisha. Namun, ia menekankan bahwa komunikasi bawah tanah antara Washington dan Teheran saat ini sebenarnya masih terus berlangsung meski di permukaan tampak buntu.
Skenario Kedua: Adu Gengsi dan Ilusi Kemenangan
Skenario kedua melibatkan salah satu pihak yang mengalah. Namun, Aisha menilai kemungkinan ini sangat kecil karena masalah “harga diri” politik domestik. Baik Donald Trump maupun rezim di Teheran sama-sama membutuhkan narasi kemenangan untuk menjaga legitimasi mereka.
Kekalahan atau pengunduran diri secara cuma-cuma tanpa kompensasi politik yang besar akan dianggap sebagai kegagalan strategis bagi kedua belah pihak.
Skenario Ketiga: Status ‘Perang Mengambang’
Skenario yang paling unik dan berpeluang besar terjadi adalah munculnya perdamaian negatif atau “perang mengambang” (negative peace). Dalam model ini, secara formal kedua negara masih dalam status berperang, namun tidak ada aksi militer besar-besaran yang terjadi.
“Situasinya mungkin akan menyerupai hubungan Korea Utara dan Korea Selatan. Statusnya perang, tapi ada kondisi yang memungkinkan kedua negara tetap berfungsi dan berkembang di jalurnya masing-masing tanpa harus saling menghancurkan,” jelas Aisha.
Faktor November: Pemilu Sela AS Sebagai Penentu
Aisha juga menyoroti bahwa nasib akhir konflik ini sangat bergantung pada hasil Pemilu Sela (Midterm Election) Amerika Serikat pada November mendatang. Jika oposisi (Demokrat) berhasil menguasai parlemen, kebijakan agresif Donald Trump terhadap Iran bisa kehilangan dukungan politik dan dana, yang secara otomatis memaksa Washington untuk menarik diri dari eskalasi militer.
Kini, dunia tengah menanti skenario mana yang akan diambil. Apakah Timur Tengah akan menemukan jalan keluar yang terhormat, atau justru terjebak dalam ketegangan abadi yang menyandera stabilitas ekonomi global?



